Harga Saham Bank Papan Atas Rontok, Kenapa?
Oleh Hari Prabowo
Ketua LP3M Investa dan pengamat pasar modal
INVESTORTRUST.ID - Penurunan harga saham empat bank papan atas akhir-akhir ini sungguh menyita perhatian publik, khususnya para investor pasar modal. Publik bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan keempat bank yang dikenal sebagai bank paling solid dan paling cuan tersebut?
Keempat bank itu tiada lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Dalam sebulan terakhir, saham BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA mengalami penurunan yang amat signifikan dari harga tertingginya. Berdasarkan data RTI Business 7 Mei 2024, saham BMRI anjlok 9,06%, BBRI tergerus 21,18%, BBNI terpangkas 16,81%, dan BBCA menyusut 1,52%.
Baca Juga
Pegiat Pasar Modal Hari Prabowo Luncurkan Buku "Rahasia Harga Saham", yuk Intip Isinya…
Penurunan saham BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA turut menyeret jatuh indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, penurunan saham keempat bank itu jauh melampaui pelemahan IHSG yang saat ini bertengger di level 7.123,61. Pada periode yang sama, indeks “hanya” melemah 1,13%.
Yang membuat para investor di lantai bursa terhenyak, aksi jual saham keempat bank jumbo tersebut mayoritas dilakukan investor asing. Dan, aksi jual oleh investor asing kali ini di luar kebiasaan, baik dari sisi volume maupun nilainya.
Saham BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA memang pernah terkoreksi sampai 5% lebih dalam sehari, namun itu terjadi pada masa-masa Covid-19.
Lantas, alasan apa yang mendorong para investor saham, terutama asing, ramai-ramai melepas saham BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA secara agresif di pasar?
Berdasarkan analisis penulis, ada sejumlah alasan mengapa harga saham BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA anjlok, yaitu:
Pertama, dari sisi laporan keuangan, laba bersih per saham (earning per share/EPS) bank-bank tersebut pada kuartal I-2024 menunjukkan pertumbuhan yang lebih kecil dibandingkan periode sama tahun-tahun sebelumnya. Hal ini bisa diasumsikan bahwa perolehan laba bank-bank itu ke depan mulai terbatas.
Kedua, kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 6,25% akan memicu kenaikan suku bunga kredit. Kenaikan suku bunga bukan saja dapat mengganggu pertumbuhan kredit, tapi juga berpotensi mendorong kenaikan kredit bermasalah (non performing loans/NPL) jika tidak dikelola dengan baik.
Ketiga, aksi lepas saham bank-bank BUMN (BRI, BNI, dan Bank Mandiri) oleh investor secara masif merupakan antisipasi terhadap kemungkinan dilakukannya restrukturisasi utang BUMN infrastruktur, seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dan sejumlah perusahaan pelat merah lainnya.
Program restrukturisasi utang BUMN juga bisa memengaruhi perolehan laba bank BUMN, mengingat utang terbanyak BUMN, khususnya BUMN infrastruktur, berasal dari kredit bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Apalagi utang BUMN yang direstrukturisasi sangat besar. Jika ditotal, nilainya bisa mencapai ratusan triliun rupiah.
Dari keempat bank tersebut, saham BBCA mengalami penurunan harga saham paling kecil karena kredit yang disalurkan BCA ke BUMN tidak sebesar yang disalurkan Bank Mandiri, BRI, dan BNI.
Baca Juga
Asing Masih Net Sell Saham Rp 0,72 Triliun, Net Buy SBN Rp 3,79 Triliun
Akibat penurunan harga yang sangat signifikan, rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) keempat bank tersebut menjadi lebih rendah atau bahasa sederhananya menjadi lebih murah.
Atas penurunan harga saham yang di luar kebiasaan ini, manajemen BRI (BBRI) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham BBRI di pasar. Langkah itu ditempuh antara lain untuk menunjukkan sikap optimistis bahwa BRI tetap menunjukkan kinerja yang solid. Apakah aksi korporasi ini juga akan diikuti BMRI dan BBNI?
Kabar baiknya, berdasarkan data historis, harga saham BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA selalu menunjukkan pertumbuhan dari awal tahun sampai akhir tahun berjalan.
Nah, jika saja kebiasaan ini masih berlaku, hal itu bisa menjadi peluang bagi para investor untuk mulai mengakumulasi saham bank-bank tersebut. Namun, tentu saja menganailisis prospek bank-bank tersebut lebih penting. Bukankah di pasar saham tidak ada yang sifatnya pasti? ***

