Kedigdayaan Performa Bank-Bank Papan Atas dan Prospek Harga Sahamnya
JAKARTA, investortrust.id – Empat bank nasional papan atas menorehkan kinerja impresif sepanjang 2023 dengan pertumbuhan laba dan kredit mencapai double digit. Transformasi dan digitalisasi merupakan salah satu penopang lompatan kinerja bank-bank kategori Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) 4 tersebut.
Bank-bank tersebut juga menikmati pendapatan bunga cukup tebal di tengah kebijakan suku bunga tinggi. Selain itu, bank-bank penguasa pasar ini pun mampu bertumbuh di atas rata-rata industri perbankan nasional.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali membukukan lompatan laba bersih senilai Rp 17,5% menjadi Rp 60,4 triliun sepanjang 2023. Raihan tersebut menjadi pencapaian terbesar bagi emiten bank pelat merah ini sepanjang masa.
Menurut Direktur Utama BRI Sunarso ketika memaparkan kinerja keuangan di Jakarta, Rabu (31/01/2024), pertumbuhan laba tersebut didukung kenaikan pendapatan bunga sebanyak 18% dari Rp 151,87 triliun menjadi Rp 178,99 triliun. Pendapatan bunga bersih juga melesat 8% dari Rp 124,59 triliun menjadi Rp 135,18 triliun.
Pertumbuhan tersebut menjadikan total laba bersih perseroan bertumbuh sebanyak 17,5% dari Rp 51,17 triliun menjadi Rp 60,4 triliun. Secara konsolidasian, aset perseroan tumbuh 5,3% yoy menjadi Rp 1.965,0 triliun.
“BRI sekali lagi membuktikan bahwa dengan strategic response yang tepat yang bisa mengubah tantangan menjadi kesempatan, kesulitan menjadi kemudahan, sehingga secara keseluruhan BRI menjadi semakin tangguh, kuat dan hebat. Ini juga bukti nyata bahwa perusahaan BUMN yang memiliki fungsi agent of development dan value creator dapat secara simultan menjalankan peran economic and social value secara bersamaan,” terangnya.
Penopang utama kinerja impresif BRI adalah penyaluran kredit yang tumbuh double digit dan di atas industri perbankan nasional, kualitas kredit yang terjaga, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang memadai dengan fokus pada dana murah (CASA), efisiensi yang terus meningkat, serta hasil dari transformasi digital yang dilakukan BRI.
Penyaluran kredit tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp 1.266,4 triliun, di atas pertumbuhan kredit perbankan nasional sebesar 10,4%. Apabila dirinci, segmen mikro tumbuh 10,9% yoy menjadi Rp 611,2 triliun, konsumer tumbuh 13,4% yoy menjadi Rp 190,0 triliun, segmen kecil dan menengah tumbuh 8,6% yoy menjadi Rp 267,5 triliun dan segmen korporasi tumbuh 13,8% yoy menjadi Rp 197,7 triliun. Total portofolio kredit UMKM BRI mencapai 84,4% dari total penyaluran kredit BRI atau setara Rp 1.068,7 triliun.
Jumlah nasabah holding ultra mikro tercatat 37,3 juta peminjam. Dari jumlah itu, 15 juta pelaku usaha adalah perempuan melalui PNM Mekaar dengan pinjaman Rp 41,6 triliun. “Kini BRI pantas mengklaim diri sebagai group lending terbesar di dunia. Hal ini merupakan wujud BRI Group dalam melakukan pemberdayaan kepada wanita prasejahtera (underprivileged women) dan mendukung pencapaian SDGs khususnya yang terkait dengan kesetaraan gender,” jelas Sunarso.
Kredit bermasalah (NPL) BRI hingga akhir Desember 2023 terkendali di level 2,95% dengan NPL Coverage sebesar 229,09%. Sementara itu Loan at Risk (LAR) BRI tercatat sebesar 13,8%, turun dari level tertinggi di September 2020 sebesar 29,8%.
Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 1.358,3 triliun atau tumbuh 3,9% yoy, dengan dana murah (CASA) 64,4% atau setara Rp 874,1 triliun. LDR BRI tercatat sebesar 84,2% dengan rasio kecukupan modal (CAR) 27,3%.
Cost to Income Ratio (CIR) terus membaik ke level 41,9%. Meningkatnya efisiensi tersebut tak terlepas dari transformasi digital yang terus dijalankan. “Keberhasilan transformasi digital BRI pun terbukti dari kinerja positif BRImo. Dimana BRImo saat ini telah menjelma sebagai super apps serba bisa yang telah digunakan oleh 31,6 juta users dengan volume transaksi mencapai Rp 4.158 triliun atau tumbuh 55,8%”, ungkap Sunarso.
Transformasi digital mampu menjangkau nasabah lebih luas juga lewat 740 ribu Agen BRILink yang dimiliki. Volume transaksi lewat BRILink mencapai Rp 1.427 triliun dan memberikan fee-based income Rp 1,5 triliun.
Bank Mandiri Tumbuh 33,7%
Sedangkan PT Bank Mandiri Tbk sukses mencatatkan pertumbuhan kredit hingga double digit atau 16,3% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1.398,1 triliun hingga akhir 2023. Itulah salah satu penopang laba bersih Bank Mandiri yang tembus Rp 55,1 triliun secara konsolidasi, atau melesat 33,7% secara tahunan (year on year/yoy). Hal ini membuat pertumbuhan laba Mandiri menempati pertingkat tertinggi di jajaran bank-bank terbesar di Tanah Air.
Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi mengatakan, pertumbuhan total kredit tersebut ditopang oleh seluruh segmen pembiayaan yang mengalami kenaikan positif. Salah satunya didominasi oleh kredit korporasi yang tumbuh 18,3% (yoy) menjadi Rp 490 triliun di tahun lalu.
Sejalan dengan itu, kredit yang berhasil disalurkan Bank Mandiri di segmen komersial tercatat Rp 238 triliun, tumbuh 21,2%. Pertumbuhan ini menjadi yang paling tinggi di antara segmen kredit lainnya.
“Dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, Bank Mandiri berkomitmen bersama mendorong keberlanjutan ekonomi di sektor-sektor potensial pada masing-masing wilayah termasuk segmen SME (small, medium & enterprise) dan mikro,” ujarnya, dalam konferensi pers virtual, Rabu (31/01/2024).
Sementara, lanjut Darmawan, pada kategori SME, kredit yang disalurkan juga tumbuh 14% (yoy) menjadi Rp 77 triliun. Kemudian, untuk segmen mikro tercatat sebesar Rp 168 triliun atau naik 10,4% (yoy).
Pertumbuhan kredit tinggi ini dibarengi dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang berada di level 1,02%, dengan rasio pencadangan (NPL coverage ratio) di level konservatif, yakni sebesar 384%.
Bank Mandiri telah membukukan total aset konsolidasi Rp 2.174,2 triliun pada 2023, naik 9,12% yoy.
BNI Kejar RoE 20%
Bank BUMN lainnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berhasil mencatatkan peningkatan laba bersih sebanyak 14,2% dari Rp 18,31 triliun menjadi Rp 20,90 triliun hingga akhir 2023. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 7,6%, bersamaan dengan penurunan biaya kredit (credit cost) menjadi 1,4%, dan margin bunga bersih (NIM) berada di level 4,6%.
Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar dalam jumpa pers, Jumat (26/01/2024) menyebutkan, pertumbuhan laba sejalan dengan kenaikan pendapatan bunga sebanyak 12,5% dari Rp 54,65 triliun menjadi Rp 61,47 triliun. PPOP juga naik tipis 1,6% dari Rp 34,41 triliun menjadi Rp 34,97 triliun.
Untuk beberapa indikator lain, NIM turun dari 4,8% menjadi 4,6%, cost of fund naik dari 1,5% menjadi 2,2%, sedangkan rasio CASA turun dari 72,4% menjadi 71,4%.
Kolektibilitas kredit membaik, tercermin pada penurunan NPL gross dari 2,8 menjadi 2,1%. Biaya kredit juga turun dari 1,9 menjadi 1,4. LAR berkurang dari 16% menjadi 12,9%. Kredit mampu tumbuh 7,9% sepanjang 2023.
Kinerja cemerlang BNI merupakan buah dari transformasi tiga tahun terakhir. Melalui program transformasi, perseroan konsisten mendorong penguatan struktur bisnis sehingga lebih siap menghadapi dinamika dan tantangan ekonomi ke depan.
"Transformasi tiga tahun terakhir telah menjadi turning point yang memperkuat fondasi bisnis BNI. Kami melihat program transformasi ini lebih dari sekadar inisiatif. Ini adalah sebuah langkah besar yang menandai dedikasi dan komitmen kami untuk terus tumbuh dan berkembang serta beradaptasi terhadap perubahan di tingkat nasional dan global," kata Royke.
Profitabilitas BNI terus meningkat, antara lain tercermin pada rasio Return on Equity (RoE) yang mencapai 15,2% pada 2023. ROE akan digenjot hingga 20% pada 2028 melalui konsistensi dalam membukukan pertumbuhan kredit yang berkualitas dari segmen consumer, corporate, dan UMKM sehingga kualitas aset akan sehat dalam jangka panjang.
Hasil positif ini juga diperoleh dari perbaikan fundamental, termasuk kontribusi fee-based income, efisiensi operasional, peningkatan produktivitas bisnis, kontribusi anak perusahaan, serta kualitas aset.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berhasil mencatatkan peningkatan laba bersih sebanyak 19,4% menjadi Rp 48,6 triliun pada 2023. Menurut Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, pertumbuhan sejalan dengan pertumbuhan kredit perseroan. “Kredit BCA tumbuh 13,9% pada 2023, di atas rata-rata industri,” ujar Jahja dalam Press Conference Paparan Kinerja Full Year 2023 BCA yang digelar secara virtual via Zoom, Kamis (25/1/2024).
Prospek 2024
Dirut BRI Sunarno menegaskan bahwa BRI menatap tahun 2024 dengan penuh optimisme. Perseroan pun terus berupaya untuk merespons berbagai tantangan guna mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
“Inovasi dan eksplorasi sumber pertumbuhan baru yang dilakukan BRI berimplikasi pada bisnis perseroan yang semakin kompleks, hal ini menuntut BRI agar dapat lebih dinamis dan cermat dalam mengoptimalkan peluang bisnis, baik dimasa sekarang maupun di masa-masa mendatang,” pungkas Sunarso.
Sedangkan BNI tahun ini membidik pertumbuhan kredit lebih tinggi sebesar 9-11%. NIM diprediksi berada di atas 4,5% dan biaya kredit diperkirakan turun menjadi di bawh 1,4%.
"Agenda kami ke depan adalah memperluas digitalisasi pada proses bisnis, pengembangan platform transaction banking yang lebih advanced, transformasi cabang, hingga peningkatan skala bisnis perusahaan anak, yang memungkinkan BNI memiliki proposisi nilai (value proposition) dan customer engagement yang unggul," jelas Royke Tumilaar.
Rekomendasi Saham
Dengan performa yang demikian cemerlang sepanjang 2023, sejumlah sekuritas merevisi naik target harga saham bank-bank papan atas yang masuk kategori KBMI 4 ini.
Tim Riset Mandiri Sekuritas meyakini bahwa pertumbuhan laba bersih dua digit yang diraih BBRI pada 2023 bakal kembali terwujud tahun ini. Keberhasilan menorehkan penguatan kinerja tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.700. Target tersebut juga mempertimbangkan optimismes terhadap berlanjutnya pertumbuhan perseroan tahun ini. Bahkan, saham BBRI masuk dalam daftar 10 saham pilihan Mandiri Sekuritas.
Sedangkan Analis Sinarmas Sekuritas Isfhan Hemly dan Arie Machrus mengatakan, pertumbuhan kredit yang kuat dan diikuti dengan penurunan biaya kredit menjadikan keuntungan BCA melesat sepanjang 2023. “Pertumbuhan kinerja keuangan tersebut menjadi momentum berlanjutnya pertumbuhan keuangan tahun ini,” kata mereka.
Selain pertumbuhan kredit yang kuat, Isfhan mengatakan, ROE perseroan tahun 2023 mencapai 23,5% dan CAR mencapai 29,4%. Hal itu menunjukkan profitabilitas yang baik. Penurunan kredit bermasalah (NPL) diharapkan berlanjut tahun 2024 dengan perkiraan NPL gross mencapai 1,5-1,7%. Target tersebut mempertimbangkan peluang pemangkasan suku bunga pada semester II-2024.
Dengan perbaikan performa 2023 dan didukung ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan yang solid, Sinarmas Sekuritas merevisi naik target harga saham BBCA menjadi Rp 11.500 dengan rekomendasi beli. “Artinya, terbuka peluang penguatan saham ini mencapai 21%,” terangnya.
Sinarmas Sekuritas memperkirakan lompatan laba bersih BCA menjadi Rp 56,20 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 48,63 triliun. PPOP juga diharapkan menguat dari Rp 65,22 triliun menjadi Rp 73,86 triliun.***

