Fitch Ratings Turunkan Peringkat Utang AS jadi AA+, Dow Jones Turun 100 Poin
JAKARTA, investortrust.id – Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, menurunkan peringkat utang luar negeri jangka panjang Amerika Serikat (AS) menjadi AA+ dari sebelumnya AAA. Keputusan Fitch Rating didasari pertimbangan akan terjadi penurunan fiskal dalam tiga tahun mendatang, selain potensi penurunan tata kelola, serta beban utang yang meningkat.
Penetapan peringkat baru utang AS ini diambil Selasa (1/7) waktu AS, atau Rabu (2/7) dini hari waktu Indonesia. "Fitch menyatakan bahwa konflik politik terkait batas utang yang berulang kali dan penyelesaian last-minute telah mengurangi kepercayaan pada pengelolaan fiskal," demikian bunyi pernyataan Fitch Rating seperti dilansir CNBC.com.
Pasar saham pun bereaksi atas pengumuman itu. Indeks saham-saham AS pun dibuka lebih rendah setelah lembaga peringkat utang itu mengumumkan penurunan peringkat utang. Indek Dow Jones pun terpangkas sekitar 100 poin.
Pada Mei lalu, Fitch Rating menempatkan peringkat utang AS pada level AAA meski dalam pengawasan negatif. Kala itu Fitch memberi catatan soal batas utang.
Para pembuat kebijakan Washington saling memperdebatkan soal kesepakatan yang akan mencegah pemerintah Federal kehabisan uang. Presiden Joe Biden menandatangani undang-undang batas utang pada tanggal 2 Juni, hanya beberapa hari sebelum jatuh tempo hari H pada 5 Juni.
Perselisihan terbaru tentang batas utang negara ini juga kembali dinyatakan Fitch dalam penurunan peringkat hari Selasa."Menurut pandangan Fitch, telah terjadi penurunan yang stabil dalam standar tata kelola dalam 20 tahun terakhir, termasuk dalam masalah fiskal dan utang, meskipun kesepakatan bipartisan pada bulan Juni untuk menangguhkan batas utang hingga Januari 2025," kata lembaga peringkat tersebut.
Fitch Rating juga menyoroti defisit pemerintah yang terus meningkat. Nilai deficit diperkirakan akan naik menjadi 6,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2023, disbanding 3,7% pada tahun 2022.
"Pemotongan belanja diskresioner non-pertahanan (15% dari total belanja federal) sebagaimana disepakati dalam Undang-Undang Tanggung Jawab Fiskal hanya menawarkan perbaikan sedikit pada prospek fiskal jangka menengah," demikian catatan Fitch.
Lembaga peringkat tersebut juga mencatat bahwa kombinasi kondisi kredit yang ketat, pelemahan investasi bisnis, dan perlambatan konsumsi dapat menyebabkan ekonomi mengalami resesi "ringan" pada kuartal keempat tahun 2023 dan kuartal pertama tahun depan.
Gedung Putih tidak setuju dengan keputusan penurunan peringkat oleh Fitch. "Sangat tidak masuk akal untuk menurunkan peringkat Amerika Serikat pada saat Presiden Biden telah memberikan pemulihan paling kuat dari setiap ekonomi besar di dunia," ujar juru bicara pers Karine Jean-Pierre.
Ini bukan kali pertama lembaga peringkat menurunkan peringkat kredit AS. Standard & Poor's menurunkan peringkat kredit negara ini menjadi AA+ dari AAA pada tahun 2011 setelah Washington berhasil menghindari kebangkrutan. Saat itu, lembaga peringkat tersebut menyoroti risiko politik sebagai salah satu alasan.

