IHSG Melemah Dua Pekan, Begini Pandangan Analis terhadap Prospek Selanjutnya
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan penurunan pekan ini atau 22-26 April sebanyak 51,24 poin (0,72%) menjadi 7.036,07. Begitu juga dengan pemodal asing lanjutkan penjualan bersih (net sell) saham dengan total Rp 4,51 triliun.
Koreksi IHSG tersebut merupakan pekan kedua setelah pekan lalu ditutup anjlok sebanyak 199,56 poin (2,74%) dari 7.286,88 menjadi 7.087,31 dengan total net sell investor asing senilai Rp 4,49 triliun. Sejumlah analis menyebutkan bahwa faktor utama penurunan indeks berasal dari sentiment global.
Baca Juga
Laba Bersih GTSI Tergerus 48,18% Menjadi US$ 1,11 Juta, Ini Penyebabnya
Analis Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengatakan, pemicu utama penurunan IHSG dalam dua pekan terakhir berasal dari faktor global, yaitu peningkatan tensi geopolitik Timur Tengah, khususnya ketegangan politik Israel dan Iran.
“Memanasnya geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dunia hingga berada di atas level US$ 85 per barel. Kondisi tersebut berimbas terhadap peluang peningkatan inflasi global yang kemudian memperlambat peluang penurunan tingkat suku bunga global, khususnya The Fed di Amerika Serikat. Hal ini akan merembet terhadap suku bunga bank sentral negara-negara dunia,” ujarnya kepada investortrust.id di Jakarta, Sabtu (27/4/2024).
Sepanjang tensi geopolitik belum berubah, dia mengatakan, pergerakan indeks bursa-bursa saham global, termasuk Indonesia, akan cenderung bearish. Begitu juga dengan nilai tukar rupiah akan cenderung melemah, seiring dengan inflasi global yang masih tinggi.
Baca Juga
Menunggu Pelantikan, Prabowo Persiapkan Diri Lanjutkan Program Jokowi
Meski demikian, Reza mengatakan, pemodal tetap memiliki peluang untuk meraup keuntungan dari pasar saham dengan mencermarti pergerakan harga saham komoditas, seperti emiten produsen logam, minyak dan gas (migas), dan batu bara. “Apabila geopolitik belum membaik, harga-harga komoditas tambang diperkirakan tetap menjadi primadona,” terangnya.
Sementara itu, Direktur PT Infovesta Utama Parto Karwito mengatakan, pemicu utama penurunan IHSG BEI dalam dua pekan terakhir adalah sentimen global, yaitu berita penundaan penurunan suku bunga The Fed akibat inflasi kembali memanas setelah peningkatan tensi geopolitik Timur Tengah.
“Penurunan juga dipengaruhi kondisi ekonomi Eropa belum menunjukkan pemulihan,” katanya kepada investortrust.id melalui pesan di Jakarta, Sabtu (27/4/2024).
Baca Juga
Pengamat Ekonomi Paramadina: Penaikan ‘BI-Rate’ Akan Efektif jika…
Parto melanjutkan bahwa IHSG BEI bisa berbalik ke zona hijau, apabila ada tanda-tanda penurunan tingkat suku bunga sebanyak 1-2 kali pada semester II tahun 2024. “Penguatan indeks juga bisa terwujud, apabila ekonomi China menunjukkan pemulihan yang diharapkan menopang ekonomi global,” terangnya.
Meski demikian, Parto tetap optimistis terhadap pergerakan IHSG BEI tahun ini bisa cetak lanjutkan penguatan ke level 7.800, dibandingkan penutupan akhir 2023 level 7.303,89.
Pergerakan IHSG Sebulan Terakhir

