Menguji Mitos “Sell in May and Go Away” di Bursa Saham
JAKARTA, investortrust.id – Pasar saham diprediksi masih akan mengalami tekanan pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan depan, periode 30 April hingga 4 Mei 2024. Kedatangan momen sell in may and go away disebut-sebut memengaruhi arah pasar di tengah ragam sentimen negatif skala global dan domestik.
Sebagai catatan, sell in may and go away adalah ungkapan yang menggambarkan fenomena bulan Mei di pasar saham, yang umumnya dilakukan dengan menjual saham pada bulan Mei dan menunggu hingga akhir Oktober.
Sebelumnya, selama sepekan terakhir, periode 23 hingga 26 Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sebesar 0,72% ke level 7.036,07. Pelemahan IHSG dipicu oleh aksi jual pelaku pasar pada saham blue chips, terutama sektor perbankan.
Baca Juga
Rusia Uji Coba Sistem Baru untuk Lacak Tautan Kripto ke Fiat
Chief Executive Officer PT Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Surya Wijaya mengatakan, masa konsolidasi IHSG yang diprediksi akan berlangsung pekan depan, masih merupakan lanjutan dari sentimen negatif penaikan suku bunga acuan (BI-Rate) oleh Bank Indonesia ke level 6,25% periode pada tanggal 24 April 2024.
Penaikan suku bunga sendiri merupakan respons BI dalam mengerem volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mengalami pelemahan hingga di atas level 16.000 per dolar AS. Nilai tukar rupiah terakhir kali menembus angka di atas Rp 16.000 terjadi pada Maret 2020.
Selain pelemahan nilai tukar rupiah dan penaikan BI-Rate, rally harga emas juga menjadi pemicu pelemahan IHSG. “Aksi lepas saham merupakan indikasi terjadi shifting atau perpindahan investasi pelaku pasar ke instrumen safe haven yaitu emas, simpanan perbankan maupun dolar AS,” urai William saat dihubungi Investortrust.id melalui sambungan telepon, Sabtu (27/4/2024).
Mencermati kondisi tadi William memprediksi IHSG akan menguji titik psikologis level 7.000 bahkan ke titik support level 6.998 sepanjang perdagangan saham pekan depan.
Baca Juga
Harga Minyak Bisa Tembus US$ 100 per Barel, Ini Faktor Penyebabnya
Di tengah tren penurunan IHSG, William menyarankan pelaku pasar agar tetap tenang dan tidak panik untuk ikut-ikutan melakukan aksi jual. Dia menilai penurunan pasar hanya sentiment jangka pendek. “Kalau Anda yakin ada momen sell on may and go away, harusnya jangan ikut jual, malah momentum tepat untuk beli, saat harga-saham sedang murah,” kata William.
Pandangan berbeda disampaikan oleh Pakar Keuangan dan Pasar Modal, Budi Frensidy. Menurutnya penurunan pasar bukan semata sentimen sell on may and go away, tapi lebih serius terkait faktor fundamental ekonomi.
Dikatakan, kejatuhan rupiah bisa membawa efek serius sebab berimplikasi pada kenaikan biaya dana, juga kenaikan inflasi dan berujung pada tekanan terhadap kinerja emiten, terutama perusahaan yang yang memiliki utang besar dalam bentuk dolar AS, bahkan bisa sampai memperlebar defisit APBN.
“Sentimen sell on may and go away itu hanya mitos, sebab tidak selalu pada bulan Mei itu harga-harga saham jatuh. Tekanan yang terjadi lebih karena masalah fundamental ekonomi,” kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia tersebut.
Lebih lanjut William mencermati aksi jual yang dilakukan pelaku pasar termasuk investor asing, sejatinya membuka peluang menarik bagi pelaku pasar yang memiliki visi investasi jangka panjang, untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental baik yang sahamnya dibuang.
Saham-saham dimaksud terutama di sektor perbankan, terutama bank papan atas seperti saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), serta saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) untuk sektor infrastruktur.
“Saat kondisi ekonomi menunjukan perbaikan, saham-saham papan atas tadi bakal lebih cepat menguat, sehingga ini merupakan momentum tepat untuk akumulasi bagi investor yang memiliki horizon jangka panjang,” pungkasnya.

