Dirut BSI Tepis Mitos Jika Bank Syariah Sulit Berkembang
JAKARTA, investortrust.id - Menurut Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi, pihaknya berhasil mematahkan mitos yang beredar bahwa bank syariah sulit berkembang.
“Setelah BSI dilahirkan dari hasil merger tiga bank syariah milik Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) BSI mempunyai kekuatan. Namun, langkah pasca merger selanjutnya sangat menentukan,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Senin (14/10/2024).
Pasca merger, lanjut Hery, BSI dikelola dengan tata kelola yang bagus, manajemen risiko yang framework-nya berdasarkan praktik terbaik sehingga bisa berkembang hingga saat ini.
“Jadi beberapa mitos yang menyebutkan bank syariah tidak bisa berkembang, kemudian mitos soal SDM (sumber daya manusia), lalu mitos teknologi dan digitalnya ketinggalan, itu enggak ya (tidak terjadi),” katanya.
Baca Juga
Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko BSI Grandhis Helmi mengungkapkan, kolaborasi strategis merupakan elemen kunci dalam keberhasilan merger yang menjadikan cikal bakal BSI. Merger bukan hanya menyatukan aset dan sumber daya, tapi juga menyatukan nilai-nilai syariah yang menjadi pondasi untuk melayani masyarakat.
Tantangan dalam proses integrasi budaya terletak pada perbedaan nilai inti dari masing-masing bank syariah. Karena, langkah mensinergikan beragam perbedaan menjadi satu kesatuan yang solid membutuhkan strategi matang dari manajemen.
Baca Juga
Selain itu, sama seperti Hery, menurutnya salah satu faktor kunci dalam kesuksesan merger adalah tata kelola yang jelas. “Tanpa governance yang kuat, akan muncul banyak celah yang bisa dimanfaatkan untuk melanggar aturan dan kepatuhan, yang pada akhirnya dapat menimbulkan masalah dalam organisasi,” ujar Grandhis.
Ia menjelaskan, dalam lima tahun ke depan BSI berambisi untuk masuk ke jajaran Top 10 Global Islamic Bank. Untuk itu, selain perlu memiliki tujuan yang jelas, serta visi dan misi yang dideklarasikan dengan tegas, BSI juga memiliki sejumlah upaya konkret untuk mencapai hal tersebut.
”Dengan cara ini, setiap individu dalam organisasi bisa melihat kontribusinya langsung terhadap pencapaian tujuan besar tersebut,” kata dia.
Grandhis menjelaskan, BSI yang sekarang menginjakkan usia tiga tahun, berhasil memiliki customer base terbesar di dunia yaitu mencapai 20,46 juta nasabah, tumbuh 6,05 juta nasabah dalam tiga tahun pasca merger pada Februari 2021.
Selain itu, bank berkode saham BRIS ini juga berhasil mencapai target return on equity (RoE) di atas 18% dan masuk dalam Top 10 Global Islamic Banks berdasarkan kapitalisasi pasar, atau setahun lebih cepat dari target yang ditetapkan sebelumnya pada 2025.
“BRIS mampu menunjukkan kinerja baik dan mencapai all time high (ATH) Rp 3.180 per saham pada 17 September 2024, dengan kapitalisasi pasar Rp 143,46 triliun,” ucap Graandhis.

