Saat BI Rate Naik, Tiga Saham Bank Ini justru Melesat dan Diborong Pemodal Asing
JAKARTA, investortrust.id – Saat Bank Indonesia (BI) memutuskan kenaikan BI Rate sebanyak 25 bps ke level 6,25%, tiga saham bank besar ini justru mencetak penguatan harga di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (24/4/2024). Pemodal asing juga terpantau justru agresif memborong saham atau net buy saham bank papan atas tersebut.
Penguatan tertinggi saham bank papan atas dipimpin saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik Rp 225 (2,31%) menjadi Rp 9.950. Saham ini bergerak dalam rentang Rp 9.750-9.950.
Baca Juga
BCA (BBCA): Harga Naik hingga Diborong Asing, Ternyata Target Sahamnya masih Meggiurkan
Penguatan selanjutnya juga dicatatkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan kenaikan Rp 225 (3,30%) menjadi Rp 7.050. Saham bank pelat merah ini bergerak dalam rentang Rp 6.900 hingga Rp 7.050.
Pergerakan Harga Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI Ytd
Selanjutnya saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat Rp 50 (0,95%) menjadi Rp 5.300. Saham ini bergerak dalam rentang Rp 5.200-5.350. Sebaliknya saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih torehkan penurunan Rp 75 (1,42%) menjadi Rp 5.225.
Terkait aksi beli pemodal asing terhadap saham-saham perbankan, khususnya saham bank besar, terpantau mulai gencar. Investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham BBCA Rp 318,26 miliar, net buy saham BMRI senilai Rp 188,35 miliar, dan net buy saham BBNI senilai Rp 21,93 miliar. Sebaliknya saham BBRI masih dilanda net sell oleh investor asing Rp 426,71 miliar.
Baca Juga
Prospek Tetap Kuat, Rekomendasi dan Target Saham Bank Besar Dipertahankan
Berkat lompatan harga tiga saham bank papan atas ini, IHSG BEI, Rabu (24/4/2024), ditutup menguat sebanyak 63,72 poin (0,90%) menjadi 7.174,53. IHSG bergerak di zona hijau sepanjang hari dalam rentang 7.111,09-7.191,18 dengan nilai transaksi Rp 11,31 triliun.
Kenaikan indeks didukung penguatan saham sektor teknologi 2,36%, sektor keuangan 0,46%, sektor infrastruktur 0,82%, sektor kesehatan 0,88%, dan sektor consumer non prime 0,17%.

