Tantangan Berlanjut di 2024, Begini Target Saham Harum (HRUM)
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja keuangan PT Harum Energy Tbk (HRUM) diproyeksikan kembali terkontraksi tahun ini. Penurunan dipicu berlanjutnya penurunan harga jual batu bara dan nikel sepanjang 2024.
Proyeksi tersbeut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target saham HRUM dari Rp 2.200 menjadi Rp 1.700, meski demikian rekomendasi saham HRUM dipertahankan beli.
Baca Juga
Target Kinerja Harum (HRUM) Dipangkas, Bagaimana dengan Prospek Sahamnya?
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mengatakan, secara volume, Harum (HRUM) mengindikasikan pertumbuhan volume produksik yang relative stabil tahun ini. Sedangkan segmen bisnis nikel cenderung naik setelah perseroan menambah kepemilikan saham pada PT Infei Metal Indonesia sebanyak 14,7% menjadi 39,2% IMI dan komisioning smelter PT Westrong Metal Industry (WMI) pada kuartal I tahun ini.
Terkait harga jual batu bara, dia mengatakan, pergerakan harga akan dipengaruhi peningkatan suplai di pasar global dengan perkiraan surplus mencapai 5-10 ton tahun ini. Hal ini diharapkan bisa memicu penurunan harga jual batu bara thermal menjadi sektiar US$ 120 per ton, dibandingkan perkriaan tahun lalu US$ 175 per ton.
Sedangkan harga jual LME diperkirakan turun menjadi US$ 19 ribu per ton dan harga jual NPI diprediksi tetap stabil US$ 14,5 ribu per ton tahun ini.
Baca Juga
Hal ini diperkirakan memilu laba besih perseroan lanjutkan kontraksi tahun ini setelah kontraksi terjadi sejak tahun lalu. Pembalikan laba bersih perseoran diharapkan mulai terjadi tahun depan.
Sedangkan upaya Harum untuk melanjutkan mendiversifikasi ke produk nikel lainnya, seperti NPI, HG Ni matte, dan MHP diharapkan menopang pertumbuhan margin dan menciptakan stabilita laba ke depan.
Prospek Kinerja Keuangan HRUM

