Sekuritas Ini Pertahankan Beli Saham Semen Indonesia (SMGR), Berikut Hitungannya
JAKARTA, Investortrust.id – Meski laba bersih PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mengalami penurunan sepanjang 2023, sekuritas ini tetap mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 7.200.
Analis Sucor Sekuritas Clara Nathania mengatakan, prospek dan target harga saham tersebut mempertimbangkan proyeksi manajemen SMGR terhadap pertumbuhan volume penjualan perseroan tahun ini. Volume perseroan diprediksi meningakt 2-3% didukung peningkatan permintaan semen curah.
Baca Juga
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) Cetak Kenaikan Pendapatan 6,2%
Pertumbuhan kinerja keuangan juga diharapkan datang dari segmen ekspor, seiring denga peningkatan akpasitas ekspor mencapai 8,5 juta ton yang berimbas terhadap target kenaikan voume berkisar 20-25% per tahun.
”Kami memperkirakan SMGR bisa mencatatkan rata-rata pertumbuhan tahunan laba mencapai 17% hingga 2028. Pertumbuhan juga didukung penurunan beban keuangan dan berlanjunya pertumbuhan pendapatan,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan lalu.
Sucor sekuritas juga memperkirakan laba bersih SMGR akan mencapai Rp 2,7 triliun tahun 2024 dan diharapkan lanjutkan pertumbuhan menjadi Rp 3,1 triliun pada 2025. Sedangkan margin EBITDA diperkriakan tetap stabil dalam rentang 19%,” terangnya.
Terkait realisasi kinerja keuangan SMGR tahun 2024, Sucor Sekuritas menyebutkan, angka tersebut di bawah realisasi. Angka tersebut hanya merefleksikan 87% dari target Sucor sekuritas dan merefleksikan 86% dari perkiraan konsensus analis.
Baca Juga
Sepanjang 2023, SMGR berhasil mencatatkan penjualan sebanyak 40,62 juta ton atau meningkat 10% dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh penjualan semen curah domestik yang naik 17,3% dan ekspor yang naik 42%. Penjualan domestik Semen Indonesia Group tumbuh di atas pertumbuhan permintaan domestik, terutama di segmen curah.
Peningaktan tersebut menjadikan pendapatan perseroan bertumbuh 6,2% dari Rp 36,38 triliun pada 2022 menjadi Rp 38,65 triliun tahun 2023. Namun laba kotor terkoreksi 4,69% menjadi Rp 10,17 triliun dari Rp 10,67 triliun pada periode sebelumnya. Sedangkan laba yang diatribusikan ke entitas induk turun menjadi Rp 2,17 triliun, turun dari Rp 2,36 triliun di tahun sebelumnya.
