Volume Penjualan Batu Bara Bumi Resources (BUMI) Naik, Bagaimana Kinerja Keuangan?
JAKARTA, investortrust.id – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan lonjakan volume penjualan batu bara sebanyak 13% menjadi 78,7 juta ton pada 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya 69,4 juta ton.
Sebaliknya rata-rata harga jual batu bara turun sebanyak 33% dari US$ 121 menjadi US$ 81,3 juta ton pada 2023. Penurunan tersebut memicu kinerja keuangan melemah, meski demikian perseroan masih berhasil pertahankan laba positif.
Baca Juga
Indonesia Ingin Sukses Hilirisasi Batu Bara? Bumi Resources (BUMI) Ungkap Contoh Ini
Direktur dan Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava mengatakan, realisasi volume produksi dan penjualan batu bara perseroan sepanjang 2023 sesuai dengan target yang ditetapkan, namun penurunan harga jual membuat kinerja keuangan melemah.
“Realisasi harga rata-rata batu bara turun tajam sebanyak 33% tahun lalu dari US$ 121 per ton menjadi US$ 81,3 juta per ton. Sedangkan strip ratio perseroan naik menjadi 11% dipicu jarak overburden lebih jauh dan penambangan lebih dalam,” tulisnya dalam penjelasan resminya di Jakarta, Jumat (29/3/2024).
Penurunan harga jual batu bara, ungkap dia, memicu penurunan pendapatan BUMI dari US$ 8,53 miliar pada 2022 menjadi US$ 6,57 miliar. Laba usaha juga turun dari US$ 2,06 miliar menjadi US$ 361,8 juta. Sedangkan margin laba turun dari 24,2% menjadi 5,5%.
Baca Juga
Penurunan pendapatan tersebut memicu laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun tajm dari US$ 525,3 juta menjadi US$ 10,9 juta. “Penurunan tajam kinerja perseroan dipicu atas kondisi pasar pelemahan harga jual batu bara mencapai 33% tahun 2023,” tulisnya.
Perseroan juga mencatatkan bahwa hampir 40% dari total pendapatan dibayarkan untuk royalty, pajak, dan subsidi yang berpengaruh terhadap laba. Penurunan juga dipengaruhi atas tingginya harga bahan bakar. Sejumlah faktor tersebut menekan margin keuntungan perseroan yang berdampak terhadap penurunan EBITDA dari US$ 1,23 miliar menjadi US$ 302,5 juta.
Baca Juga
Adaro Energy (ADRO) Incar Penjualan 67 Juta Ton Batu Bara di 2024
Meski menghadapi penurunan tajam batu bara, Dileep mengatakan, perseroan berhasil melakukan sejumlah efisiensi biaya untuk mengurangi dampak pelemahan harga tersebut. Program efisiensi tersebut menjadikan beban usaha perseroan turun 30,8% dari US$ 338,3 juta menjadi US$ 234 juta.
Terkait hillirisasi batu bara, Dileep mengatakan, Bumi Resources berhasil mencatatkan kemajuan dengan menggandeng mitra dari luar negeri. “Kami juga sedang tahap diskusi dengan pemerintah untuk mencpaai kesepakatan dalam proyek ini dan proyek non batu bara lainnya,” terangnya.

