Pasar Kripto Kembali Anjlok, Aset Bitcoin, Ethereum, hingga Dogecoin Terhempas
JAKARTA, investortrust.id – Harga mayoritas aset kripto kembali terkapar pada perdagangan 24 jam terakhir, khususnya aset-aset berkapitalisasi pasar besar. Penurunan tersebut berimbas terhadap pelemahan nilai kapitalisasi pasar (market cap) total aset kripto global.
Berdasarkan data coinmarket.com, aset Bitcoin anjlok 3,85% ke level terendah baru US$ 61.458,77. Dengan demikian penurunan harga aset kripto dalam sepekan terakhir telah mencapai 13% dari level di atas US$ 70.000.
Baca Juga
ETF Bitcoin dan Ethereum Spot Meluncur Perdana di Asia, Berikut Dampak Positifnya
Penurunan juga melanda aset Ethereum mencapai 2,91% dalam perdagangan 24 jam terakhir menjadi US$ 2.999,86 per koin. Dalam beberapa pekan terakhir aset ini selalu bertengger di atas US$ 30.000, sehingga total penurunan dalam sepekan telah mencapai 15,31%.
Penurunan juga melanda aset Solana mencapai 2,43% menjadi US$ 132,55 per koin atau telah anjlok sebanyak 22,85% dalam sepekan. Begitu juga dengan Dogecoin telah turun 0,08% menjadi US$ 0,4947 dalam 24 jam terakhir, sehingga total penurunan dalam sepekan terakhir telah mencapai 25,79%.
Penurunan mayoritas sejumlah aset kripto menjadikan total penurunan kapitalisasi pasar kripto global telah mencapai 3,59% dalam 24 jam terakhir. Volume perdagangan juga turun mencapai 5,29% menjadi US$ 97,55 miliar berdasarkan perhitungan coinmarket.com.
Baca Juga
Halving Bitcoin Sebentar Lagi, Apa yang Akan Terjadi Setelahnya?
Sejumlah analis menilai penurunan dalam aset kripto dalam 24 jam terakhir, termasuk bursa saham global, dipicu atas belum berakhirnya kekhawatiran terhadap tensi geopolitik Timur Tengah dan peningkatan risiko ekonomi dunia.
Peningkatan risiko geopolitik setelah perdana Menteri Benyamin Netanyahu menyatakan meskipun ada saran dari sekutunya untuk tidak membalas serangan Iran, Israel bersikukuh akan membuat Keputusan sendiri terhadap serangan tersebut. Kekhawatiran investor juga datang dari pernyataan guberbur The Fed Jerome Powell yang mengindikasikan tidak akan dilakukan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat di tengah berkurangnya peluang terjadi disinflasi.

