Ada Kabar Baru Soal Merger Emiten Haji Isam (JARR), Harga Sahamnya Menanjak
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan milik crazy rich asal Batulicin, Haji Isam, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk meminta restu pemegang saham terkait rencana penggabungan atau merger dengan PT Jhonlin Agro Lestari (JAL).
Nama terakhir merupakan entitas usaha yang juga di bawah kendali Haji Isam. RUPSLB rencananya digelar pada 24 November 2023. Bila disetujui pemegang saham, maka Perseroan menjadwalkan tanggal efektif merger pada 27 November 2023.
Rencana merger tampaknya membawa sentimen positif terhadap saham JARR. Saham emiten perkebunan kelapa sawit ini tercatat menguat 3,70% ke level Rp 224 per saham, Rabu (22/11/2023).
Volume transaksi saham JARR tercatat sebanyak 33.113 lot. Secara kumulatif sejak kabar merger dihembuskan, saham JARR tercatat menguat lebih dari 17% dari Rp 185 pada 24 Oktober 2023, ke level Rp 224 hari ini.
Untuk diketahui, JARR merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan luas pengelolaan lahan 17.020,26 Ha berizin Hak Guna Usaha (HGU). Lahan perseroan tertelak di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Baca Juga
Jhonlin Agro (JARR) Merger, Manajemen Ungkap Dampaknya bagi Kinerja Keuangan
Selain perkebunan, JARR juga memiliki pabrik pabrik kelapa sawit (PKS) yang menghasilkan crude palm oil, biodiesel maupun minyak kimia organik, serta usaha perdagangan terkait sawit. Komisaris Utama JARR merupakan pemuda berusia 21 tahun bernama Jhoni Saputra.
Jhoni yang merupakan putra Haji Isam, pengusaha asal Kalimantan Selatan tersebut juga tercatat sebagai pemilik PT Citra Agro Raya, pemilik/pemegang saham PT Modal Harapan Bangsa, pemilik/pemegang saham PT Surya Mega Adiperkasa.
Sementara JAL memiliki Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan sawit seluas 10.916,46 hektare di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Posisi Komisaris JAL juga dipegang oleh Jhoni Saputra dan Indra Irawan menjabat sebagai direktur.
Direktut PT Jhonlin Agro Raya Tbk, Temmy Iskandar, mengatakan, penggabungan usaha antara JARR dan JAL dilatarbelakangi oleh tujuan meningkatkan hasil produksi biodiesel dalam memenuhi kebutuhan biodiesel dalam negeri yang ditetapkan oleh pemerintah yang kian meningkat.
Baca Juga
Pendapatan Emiten Sandiaga Uno (MDKA) Melesat 86,90%, Bottom Line Berbalik Negatif
Selain itu, JARR berencana untuk mengalihkan pembelian minyak kelapa sawit dengan memproduksi sendiri minyak kelapa sawit setelah Pabrik Kelapa Sawit JARR rampung pada kuartal-IV tahun 2023, sehingga JARR memerlukan kepastian suplai Tandan Buah Segar (TBS) agar PKS dapat segera beroperasi setelah pembangunan selesai.
‘’Penggabungan antara JARR dan JAL akan memiliki manfaat-manfaat strategis, operasional dan keuangan serta akan memberikan kesempatan untuk menciptakan nilai tambah bagi kedua perusahaan, para masing-masing pemegang saham, serta seluruh pemangku kepentingan lain yang terlibat karena Penggabungan Usaha. Hal ini dikarenakan, JARR dan JAL berada di satu hamparan yang sama sehingga produksi biodiesel JARR dapat lebih efisien,’’ urai Temmy dalam keterbukaan informasi yang dirilis, Rabu (22/11/2023).
Lebih lanjut dikatakan, dalam rencana penggabungan usaha, JAL akan menggabungkan diri dengan JARR. Dan sebagai perusahaan penerima penggabungan usaha, JARR setelah penggabungan usaha menjadi efektif, akan tetap menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di BEI.
Berdasarkan nilai pasar yang telah dilakukan oleh Tim Penilai, disebutkan jumlah saham JARR per 30 Juni 2023 sebanyak 8 miliar saham dengan nilai sebesar Rp 2,04 triliun atau sebesar Rp 255 per saham, sedangkan jumlah saham JAL per 30 Juni 2023 adalah 90.550 saham dengan nilai pasar sebesar Rp 313,84 miliar atau sebesar Rp 3,46 juta per saham.
‘’Nilai aset bersih (ekuitas) JAL yang akan digabungkan dengan JARR didasarkan pada konversi saham JAL dengan saham JARR yaitu dengan rasio konversi 1 lembar saham JAL untuk 13.591 saham JARR. Dasar nilai ekuitas JAL untuk konversi saham ini adalah Rp 3,46 juta per saham. Nilai ekuitas JAL yang akan digabungkan dengan JARR ini sama dengan hasil penilaian KJPP STH yang nilai pasarnya sebesar Rp 313, 84 miliar atau Rp3,46 juta per saham,’’ urainya.
Dengan begitu akan terjadi konversi antara saham JAL menjadi saham JARR yaitu 1 saham JAL dikonversi menjadi 13.591 saham JARR. Berdasarkan konversi saham ini penambahan jumlah saham JARR adalah 1,23 miliar saham untuk mengganti saham JAL yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya dengan nilai nominal Rp 100 per saham.
