Kejar Target AUM Rp 100 Triliun, BRI-MI Gencarkan Sinergi dengan BRI Group
JAKARTA, investortrust.id - PT BRI Manajemen Investasi (BRI-MI) terus memperkuat basis investor ritel reksa dana sebagai penopang dana kelolaan (asset under management/AUM) yang ditargetkan mencapai Rp 100 triliun dalam waktu tiga tahun ke depan. Salah satu strategi perseroan adalah memperkuat sinergi dengan grup PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, selaku induk perusahaan.
“Salah satu strategi kami untuk meningkatkan jumlah investor ritel adalah menjaring lebih banyak nasabah BRI. Karena itu, kami terus bersinergi dengan BRI selaku induk usaha. Ini selaras dengan arahan pemegang saham,” kata Direktur BRI-MI, Ira Irmalia Sjam saat menerima kunjungan redaksi investortrust.id di kantor BRI-MI, Gedung BRI II, Jakarta, Senin (02/10/2023).
Ira didampingi Sekretaris Perusahaan Yudhistira Putra Pradana, Kepala Divisi Manajemen Produk dan Investasi Syariah Andree Fadjar, serta Kepala Divisi Distribusi Ritel dan Digital Bagus Setyawan.
BRI-MI --sebelumnya bernama PT Danareksa Investment Management (DIM)-- adalah anak usaha BRI dan PT Danareksa (Persero), dengan kepemilikan saham masing-masing 65% dan 35%.
Didirikan pada 1992, BRI-MI merupakan pelopor industri reksa dana di Indonesia. Per Mei 2023, manajer investasi (MI) tersebut mengelola 64 produk investasi. BRI-MI juga menyediakan layanan reksa dana digital melalui aplikasi InvestASIK.
Ira Irmalia Sjam menjelaskan, BRI merupakan salah satu bank terbesar di Tanah Air, yang dilengkapi dengan jaringan terluas dan jumlah nasabah terbanyak. “Karena itu, BRI-MI akan memanfaatkan keunggulan induk usahanya secara optimal, terutama untuk menjaring lebih banyak nasabah ritel,” tegas Ira.
Produk Unggulan
Menurut Ira, BRI-MI memiliki sejumlah produk investasi andalan. Salah satu pilihan produk yang bisa dijadikan wadah investasi bagi investor adalah Danareksa Balanced Regular Income Fund (BRIF). Produk ini merupakan reksa dana campuran yang diluncurkan pada 30 Juni 2019. Alokasi asetnya meliputi obligasi (termasuk pasar uang) sebesar 78,96%, saham 1,35%, dan pasar uang (deposito dan setara kas) sebesar 19,68%.
Berdasarkan data per Agustus 2023, komposisi 10 efek terbesar BRIF adalah Surat Utang Negara (SUN) seri FR0056, FR0059, FR0068, FR0072, FR0073, dan FR0096 masing-masing 4%, seri FR0071 dan FR0078 masing-masing 5%, serta seri FR0079 dan FR0098 masing-masing 3%.
Dalam pembagian sektor di portfolio BRIF, alokasinya terdiri atas basic materials 7%, consumer non-cyclicals 1%, energi 2%, finansial 3%, infrastruktur 2%, dan obligasi pemerintah 65%.
Ira mengungkapkan, BRIF memiliki kinerja yang menarik bagi invetor ritel. Per Agustus 2023, produk tersebut membukukan hasil investasi (return) 4,57% selama tahun berjalan (year to date/ytd), 5,83% selama 1 tahun, dan 14,24% selama 3 tahun.
Return BRIF jauh lebih tinggi dari tolok ukur (benchmark)-nya yang mencapai 2,30% (ytd), 3,42% (1 tahun), dan 10,90% (3 tahun). “Benchmark BRIF adalah 100% rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito satu bulan di BNI, Bank Mandiri, dan BCA ditambah 2% setelah pajak,” papar Ira.
Ira menambahkan, per akhir September 2023, AUM BRIF sudah tembus Rp 2,2 triliun. Padahal pada akhir 2022 baru sekitar Rp 100 miliar, atau melonjak 2.100%.
Ira menambahkan, salah satu kelebihan BRIF adalah fitur pembagian hasil investasi tiap bulan. Hal ini diharapkan bisa memberikan pengalaman investasi yang familiar bagi nasabah BRI, yang karakteristiknya mayoritas masih sebagai penabung dan pencari bunga deposito.
Produk Investasi Berbasis ESG
Selain BRIF, Ira mengemukakan, BRI-MI juga menawarkan produk lainnya dengan return menarik dan mengedepankan konsep investasi keberlanjutan yang sejalan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Produk tersebut adalah Danareksa MSCI Indonesia ESG Screened (MSCI ESG Screened) yang mengacu kepada indeks MSCI Indonesia ESG Screened. Saat ini MSCI ESG Screened terbagi menjadi MSCI ESG Screened Kelas A dan MSCI ESG Screened Kelas B.
Proses screening MSCI ESG Screened, jelas Ira, dilakukan dengan mempertahankan profil kapitalisasi pasar MSCI Indonesia dan menggunakan metodologi negative screening dengan mengecualikan perusahaan yang tidak sesuai prinsip-prinsip global compact Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Indeks berbasis social, environmental and governance (ESG) ini ditinjau setiap kuartal,” ucap dia.
Ira menjelaskan, MSCI ESG Screened Kelas A diluncurkan pada 7 September 2022, dengan alokasi aset saham 99,55% dan pasar uang 0,45%. Alokasi aset saham terbesar yaitu AMRT, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, CPIN, GOTO, KLBF, MDKA, dan TLKM.
Ira mengatakan, MSCI ESG Screened Kelas A menorehkan return 6 bulan dan ytd masing-masing sebesar 8,13% dan 7,97% per Agustus 2023, lebih tinggi dibanding benchmark (100% MSCI Indonesia ESG Screened) yang mencatatkan return masing-masing 6,01% dan 5,90%.
Adapun MSCI ESG Screened Kelas B diluncurkan pada 15 Juli 2022, dengan alokasi aset saham dan pasar uang masing-masing 99,55% dan 0,45%. Untuk alokasi aset saham, 10 saham terbesar adalah AMRT, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, CPIN, GOTO, KLBF, MDKA, dan TLKM.
Per Agustus 2023, produk ini membukukan return ytd dan 1 tahun masing-masing 8,23% dan 10,41%. “Itu juga di atas benchmark (Indeks MSCI Indonesia ESG Screened) yang masing-masing sebesar 5,90% dan 8,51%,” tutur dia.
Target AUM Rp 100 Triliun
Ira Irmalia Sjam mengakui, BRIF dan MSCI ESG Screened sangat potensial mendongkrak AUM BRI-MI ke depan. AUM perseroan saat ini mencapai Rp 37 triliun, bertambah Rp 2,2 triliun atau naik sekitar 6% dari tahun lalu. Hampir seluruh AUM BRI-MI berupa reksa dana.
Angka tersebut sudah termasuk AUM Danareksa Balanced Regular Income Fund sebesar Rp 2,2 triliun serta AUM Danareksa MSCI Indonesia ESG Screen Kelas A dan Kelas B senilai Rp 500 miliar. “Kontrak pengelolaan dana (KPD) atau discretionary fund hanya sekitar Rp 100 miliar,” ujar dia.
Ira mengungkapkan, BRI-MI akan terus mengakselerasi penambahan nasabah ritel melalui jaringan BRI. Itu merupakan salah satu strategi BRI-MI mencapai target AUM sebesar Rp100 triliun dalam tiga tahun ke depan. Angka tersebut 170% lebih tinggi dari AUM saat ini sekitar Rp 37 triliun.
“BRI memiliki customer base yang sangat besar dan jaringan distribusi yang sangat luas di seluruh Indonesia. Tentu saja potensi pertumbuhan BRI-MI sebagai anak usaha bisa diakselerasi melalui penguatan sinergi dengan induk. Melalui kolaborasi ini, kami berharap BRI-MI bisa menjadi top of mind investment brand bagi nasabah BRI yang mau mulai berinvestasi,” tandas dia. (CR-2)

