Mitratel (MTEL) Masuk Indeks LQ45, Begini Dampaknya terhadap Target Harga
JAKARTA, investortrust.id - Masuknya saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dalam indeks LQ45 atau 45 saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal menjadi katalis positif terhadap pergerakan harganya. Fund manager besar akan kembali menyeimbangkan portofolio dengan membeli saham-saham baru yang masuk dalam indeks tersebut.
MTEL masuk masuk dalam jajaran saham blue chips bersama PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Mitra Pack Tbk (PTMP). Sebaliknya 4 saham lainnya dikeluarkan, yaitu PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).
Baca Juga
Operator Telko Gencar Ekspansi Luar Jawa, Saham Mitratel (MTEL) Top Picks
Analis Phillip Sekuritas Edo Ardiansyah mengatakan, emiten yang masuk ke LQ45 akan menyebabkan eksposur ke investor terutama fund manager yang lebih luas. “Banyak fund manager lokal, terutama big fund menjadikan indeks LQ45 sebagai benchmark atau tolok ukur kinerja investasinya. Big fund cukup selektif dalam berinvestasi sehingga inklusi MTEL dapat mendiversifikasi komposisi pemegang saham perusahaan terutama di kalangan fund manager” kata Edo.
Menurut dia, inklusi tersebut menjadi katalis positif untuk saham MTEL dikarenakan adanya rebalancing portofolio yang menyebabkan inflow dana masuk ke saham MTEL. “Mengacu pada IDX Index Fact Sheet, ada 6 produk reksadana yang secara langsung menjadikan LQ45 sebagai benchmark dengan total dana kelolaan total mencapai hampir Rp 1,1 triliun. Maka, dalam jangka pendek saat rebalancing, akan ada inflow tambahan ke saham MTEL. Ini baru RD konvensional, belum yang ETF dan KPD serta investor ritel yang menggunakan LQ45 sebagai tolok ukur juga” tambah Edo.
Hal ini bisa berdampak terhadap harga sama MTEL yang masih undervalue. Konsensus analis Bloomberg menetapkan target saham MTEL dalam rentang Rp 891 atau memiliki selisih sekitar 34% dari harga saham MTEL yang saat ini di level Rp 665.
Rekomendasi terbaru dikeluarkan JP Morgan dengan menaikkan target harga saham MTEL dari semula Rp 910 menjadi Rp 960 per saham. Analis JP Morgan Ranjan Sharma mengungkapkan, naiknya valuasi Mitratel disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, fundamental bisnis yang memiliki pertumbuhan dari segi organik dan anorganik. Kedua, bisnis Mitratel mendapatkan dukungan dari industri bisnis yang sedang membutuhkan data nirkabel dan kebutuhan jaringan oleh para operator telekomunikasi. Ketiga, MTEL memiliki ruang finansial untuk mendukung pertumbuhan anorganik.
Baca Juga
“Kami memperkirakan CAGR FY22-25E sebesar 7% dari segi pendapatan. Kami memperkirakan pertumbuhan didorong oleh kombinasi pertumbuhan menara yang disesuaikan dengan kebutuhan, meningkatnya kolokasi, dan akuisisi anorganik. Persyaratan sewa menara yang menarik oleh Miratel mampu menghasilkan kolokasi yang bertambah. Kami pertahankan peringkat beli,” ungkapnya dalam riset, Kamis (18/1/2024).
Sebagai catatan, kinerja keuangan MTEL termasuk paling baik di antara peers group. MTEL membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp1,43 triliun pada 9 bulan 2023, naik 16,6% secara year on year. Dalam laporan keuangannya, Mitratel mencatatkan pendapatan senilai Rp6,27 triliun pada 9 bulan 2023, meningkat 11,89% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,6 triliun.

