Catat! Pasar Saham Indonesia Diprediksi Bullish dalam 12 Bulan ke Depan, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id – Ekonom Sucor Sekuritas, Ahmad Mikail memperkirakan pasar saham Indonesia mengalami tren penguatan (bullish) dalam 12 bulan ke depan. Syaratnya, geopolitik global dalam kondisi stabil.
“Menurut saya, stock market kita trennya akan sangat bullish dalam 12 bulan ke depan,” kata Ahmad Mikail dalam webinar Perubahan Ekonomi Indonesia di Tahun 2024 oleh Indonesia Investment Education, Sabtu (13/01/2024).
Menurut Mikail, potensi bullish sangat besar karena tidak adanya faktor internal di dalam negeri yang mengkhawatirkan. Pelaksanaan pemilu diprediksi berlansgung lancar dan kondusif sehingga kinerja perekonomian Indonesia akan tetap terjaga.
“Indeks harga saham gabungan (IHSG)bakal bergerak naik tinggi. Di sisi lain, bond market juga akan terus rally,” ujar dia.
Ahmad Mikail juga optimistis bakal terjadi window dressing di pasar saham domestik tahun ini. Soalnya, tidak ada hal signifikan yang dapat menggagalkan window dressing di Indonesia. Berbeda dengan tahun lalu, saat window dressing digagalkan pemulihan ekonomi China.
“Nah, sekarang China-nya melambat, investor global punya pilihan yang sulit untuk pilih investasi di mana. Pilihannya adalah Indonesia,” tutur dia.
Masih Sangat Murah
Posisi IHSG yang saat ini berada di level 7.200-7.300 dengan price to earning ratio (PER) 13 kali, kata Ahmad Mikail, masih terbilang sangat murah karena saham-saham unggulan (bluechip) belum mengalami rally yang cukup tinggi. “Apalagi sektor perbankan kuat sekali (membukukan laba yang impresif),” tandas dia.
Mikael menjelaskan, tahun ini Bank Sentral AS, The Fed, diperkitrakan mulai memangkas Fed funds rate (FFR). Alhasil, nilai tukar rupiah berpotensi menguat, sehingga imbal hasil (yield) obligasi domestik akan turun.
“Yield obligasi akan turun ke angka 5% karena obligasi akan bergerak lebih dulu daripada stock market,” ucap dia.
Kondisi itu, menurut dia, akan mendorong para fund manager memindahkan asetnya dari obligasi ke saham. “Jadi, kemungkinan besar, begitu yield kita jatuh ke angka 5, akan ada additional likuiditas dari fund-fund manager, dari institutional investor, pindah ke equity. Sebab, yield obligasi dianggap tidak menarik lagi,” tegas dia.

