Pasar Kripto Diproyeksi Bullish Tahun Depan, Ini Faktor Pendorongnya
Jakarta, investortrust.id - CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis yakin pasar kripto di dalam negeri akan mengalami penguatan atau bullish di tahun depan. Ada sejumlah faktor yang mendorong optimisme tersebut.
Faktor pertama, kata Yudho, yakni semakin meningkatnya adopsi kripto yang dilakukan institusi keuangan tradisional yang dipengaruhi pengajuan exchange traded fund (ETF) kripto oleh manajemen aset besar di Amerika Serikat (AS). Hal ini juga berpotensi akan berdampak pada pasar kripto di dalam negeri.
“Apabila ETF Bitcoin spot akan disetujui, diperkirakan kapitalisasi pasar Bitcoin bisa menyentuh US$ 1 triliun. Pada akhirnya dapat mendorong harga BTC ke atas US$ 50 ribu (Rp 770 juta), atau bahkan melebihi angka tertingginya sepanjang masa di angka US$ 68 ribu (Rp 1 miliar) pada November 2021 lalu,” katanya, dalam keterangan resmi, Rabu (27/12/2023).
Baca Juga
Jelang Peluncuran ETF Bitcoin, Ini 7 Kripto Teratas yang Harus Dibeli!
Selanjutnya, faktor Bitcoin halving atau pengurangan setengah imbalan para penambang Bitcoin atau miner yang diperkirakan akan terjadi di tahun depan. Hal ini akan berdampak pada jumlah Bitcoin yang beredar.
“Penurunan suku bunga The Fed akan membuat investor lebih berani beralih ke kripto, karena dianggap sebagai aset yang lebih menguntungkan. Sementara, Bitcoin halving akan mengurangi pasokan BTC, sehingga dapat mendorong kenaikan Bitcoin,” jelas Yudho.
Faktor selanjutnya yang akan menentukan tren pasar ke depan adalah regulasi dalam pengaturan dan pengawasan perdagangan aset kripto. Pelaku usaha kripto di Indonesia tengah menunggu rancangan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) sebagai regulasi teknis dari pengawasan pelaksanaan kripto.
Baca Juga
Sssttt...! Pasar Kripto Berpotensi Bullish sampai 2025, Ini Katalisnya
“Ketika industri kripto berada di bawah pengawasan OJK, legitimasi sektor ini di Indonesia diharapkan meningkat secara signifikan,” pungkasnya.
Sebagai informasi, nilai transaksi kripto di Indonesia mencapai Rp 104,9 triliun per Oktober 2023, dengan jumlah investor mencapai 18,06 juta. Namun, angka ini masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2022, di mana jumlah transaksinya mencapai Rp 306,4 triliun.

