Bukan Pilpres, Sentimen Ini yang Bisa Antar IHSG Menuju 7.400
JAKARTA, investortrust.id - Misteri tentang pasangan capres dan cawapres yang akan maju pada kompetisi Pilpres 2024 mulai terbuka, setelah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengumumkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia Mahfud MD sebagai bacapres pendamping Ganjar Pranowo.
Jauh hari sebelumnya, Koalisi Perubahan yang dipimpin Partai Nasdem menetapkan pasangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar sebagai jagoan mereka di Pilpres 2024. Tersisa Koalisi Indonesia Maju yang dimotori oleh Partai Gerindra yang belum menentukan bacapres pendamping Prabowo Subianto.
Saat ini, publik sedang menebak-nebak antara Menteri BUMN Erick Thohir atau Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka yang diusung sebagai bacawapres Prabowo.
Baca Juga
Sinar Mas Multiartha (SMMA) Caplok 15% Saham Perusahaan Multifinance Rp 60 Miliar
Kendati telah menunjukan titik terang terkait capres dan cawapres, pelaku pasar masih belum bereaksi positif. Berbanding terbalik dari harapan, sentimen pilpres tampaknya belum bertuah. Pada penutupan perdagangan pasar saham, Rabu (18/10/2023), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melorot 0,17% ke level 6.927,91.
Kepala Riset PT Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe, mengatakan, sentimen pilpres baru akan diserap pasar setelah penetapan pasangan capres dan cawapres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) 13 November 2023.
Menurut dia, sentimen ini berbarengan dengan momentum fenomena window dressing yang mulai berlangsung November. “Karena itu ada potensi IHSG mulai menguat bulan November, sampai menggapai level 7.400 – 7.500 di akhir tahun 2023,” papar Kiswoyo Adi Joe kepada Investortrust, Rabu (18/10/2023).
Keyakinan terjadinya window dressing ditopang oleh pertumbuhan rata-rata emiten papan atas di kuartal III-2023 yang sesuai ekspektasi, terutama emiten-emiten papan atas, seperti sektor perbankan, telekomunikasi dan otomotif.
Baca Juga
Ketua Kadin DKI Kuasai Mayoritas Saham Induk Usaha Estika Tata (BEEF)
Kiswoyo menyebut untuk sektor perbankan, pilihannya pada saham 4 saham papan atas yaitu BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI, sedangkan sektor telekomunikasi dia menilai potensi penguatan ada pada saham TLKM, sedangkan sektor otomotif pada saham ASII.
“Saya lihat saham TLKM dan ASII malah belum menyentuh level tertinggi yang pernah digapai, di mana TLKM pernah mencapai level 4.850, sedangkan ASII pernah ke level 8.775,” paparnya.
Untuk itu, seiring window dressing, saham TLKM diyakini akan menggapai level 5.000 sedangkan ASII berpotensi rally mendekati level tertingginya di akhir tahun 2023.
