Pemilu hingga Kondisi Geopolitik Picu Ketidakpastian Ekonomi Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Tahun 2024 adalah tahun politik. Pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan umum legislatif (Pileg) akan digelar secara serentak pada Rabu 14 Februari 2024. Dengan demikian, pesta demokrasi ini terhitung tinggal 20 hari lagi.
Termasuk Indonesia, terdapat setidaknya 64 negara yang akan menggelar pemilihan presiden di negaranya masing-masing. Dari 64 negara itu, terdapat sejumlah negara besar, seperti Indonesia, Amerika, India, Inggris hingga Rusia. Bahkan, 64 negara ini mewakili 49% populasi dunia yang mencapai 8 miliar.
Pemilihan kepala negara atau kepala pemerintahan ini sekaligus juga menambah ketidakpastian ekonomi dunia.
Hal itu disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Investortrust.id, Primus Dorimulu dalam acara Best Stock Awards 2024 yang bertajuk ‘’77 Indonesia Listed Companies,’’ di Artotel Suites Mangkuluhur, Jakarta, Kamis, (25/1/2024).
"Pemilihan kepala negara, kepala pemerintahan itu menambah ketidakpastian ekonomi dunia. Kita bertanya mengapa demikian? Peran pemimpin tertinggi politik suatu negara sangat penting," ujar Primus.
Lebih lanjut, Primus pun menggambarkan dengan kondisi Pilpres yang ada di Amerika Serikat saat ini. Sejumlah kepala negara yang hadir pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) 2024, di Davos, Swiss pada 15 Januari sampai dengan 19 Januari 2024 mengungkapkan kekhawatiran jika Donald Trump kembali terpilih memimpin Amerika Serikat.
"Kalau kita ikuti cerita di Davos 15-19 Januari 2024, beberapa kepala negara mengucapkan itu, bagaimana supaya Donald Trump jangan dipilih, itu sudah mencampuri negara orang lain, salah satunya Emmanuel Macron (Presiden Prancis). Mengapa mereka sangat takut pada Trump? Karena Trump itu yang membuat kinerjanya Pak Jokowi terganggu juga ketika tahun-tahun pertama. Begitu dia (Trump) terpilih, sudah mempromosikan perang dagang dengan China, sehingga terganggu juga ekspor kita," terangnya.
Selain pemilu, masalah perubahan iklim dan perlambatan upaya dekarbonisasi untuk mewujudkan net zero emission juga menambah ketidakpastian ekonomi dunia. Primus juga mengungkapkan sejumlah persoalan lain yang menambah ketidakpastian ekonomi dunia, seperti kondisi geopolitik dan perang terbuka.
"Kemajuan artificial intelligence (AI) generatif yang memicu disinformasi dan misinformasi, ledakan angka pengangguran dan kemiskinan, masalah geopolitik, konflik dan perang terbuka, dan masalah geopolitik selalu datang tidak terduga," jelasnya
Meski demikian, Primus meyakini terdapat sejumlah indikasi yang menunjukkan ekonomi dunia sudah membaik, meski belum sepenuhnya pulih akibat pandemi Covid-19.
"Ada ketidakpastian sebagaimana yang sudah saya gambarkan, tetapi titik terang lebih banyak terlihat, tidak ada lagi gambaran menakutkan, perfect perform tahun ini, yang digambarkan hiperinflasi, yang digambarkan suku bunga tinggi dan resesi. Bahkan kita lihat ada upaya penurunan suku bunga, karena inflasi bisa diatasi, ternyata ada perang Rusia-Ukraina, tetapi yang namanya inflasi di Eropa turun ternyata, 2023 menurun. Nah, karena inflasi dunia cenderung menurun, termasuk Amerika maka Fed Funds Rate kemugkinan akan diturunkan 2-3 kali tahun ini dan dilanjutkan pada tahun-tahun yang akan datang," ungkapnya.
Kondisi ekonomi Indonesia juga dalam keadaan baik. Pertumbuhan ekonomi 2023 berada di angka 5,1%. Lalu, inflasi di tahun yang sama 2,6% dan BI 7 Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan Bank Indonesia 6%.
"Neraca perdagangan kita positif, neraca pembayaran Indonesia juga masih positif dan perbankan dalam keadaan yang sehat," katanya.
Tidak hanya itu, Primus juga membeberkan, investasi langsung juga banyak masuk walaupun sektor pertambangan masih menjadi incaran. Kemudian, di pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI) net buying sudah Rp 6,9 triliun sampai hari ini (year to date/ytd).
"Nah, kami mencatat, kita pemilu langsung, pilpres langsung itu 2004-2009, 2014-2019, sudah empat kali pilpres langsung. 20 hari yang akan datang adalah yang kelima dan dalam empat kali itu pada tahun pemilu, justru indeks harga saham gabungan (IHSG) naik. Pada tahun 2004, IHSG naik hampir 45%, 2009 itu 87%, 2014 22,3%, hanya 2019 1,7%. Dan kami mencatat, 7-8 terakhir ini lHSG bergerak itu-itu aja. Tahun ini, kalau lihat suku bunga turun, mudah-mudahan tahun ini adalah tahun yang ekuitas, investasinya ini tidak lagi di surat berharga negara (SBN) tetapi saham. Dan kalau itu terjadi dengan penurunan suku bunga sampai 2-3 tiga tahun yang akan datang, barangkali tahun-tahun kedepan adalah tahun-tahun ekuitas. Mudah-mudahan IHSG kita pada tahun ini bisa tembus 8.000 tahun ini," paparnya.

