Kondisi Geopolitik Picu Kenaikan Harga Minyak Mentah Global
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mengalami lonjakan sebesar 4% pada awal perdagangan hari ini, Senin (18/3/2024).
Lonjakan harga minyak dibanding posisi pekan lalu tersebut, disebabkan pasokan minyak yang diperketat. serta masalah geopolitik di Eropa Timur.
Mengutip Reuters Senin, (18/3/2024) harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik 3 sen menjadi US$ 85,37 per barel pada pukul 00.45 GMT. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, naik 10 sen menjadi US$ 81,14.
Baca Juga
Italia Jantuhkan Sanksi Denda ke TikTok Rp 171 Miliar, Ada Apa?
"Risiko geopolitik juga tetap tinggi," kata tulis analis dari ANZ dalam sebuah catatan, menunjuk ke kampanye peningkatan serangan drone Ukraina di kilang minyak Rusia selama seminggu terakhir.
Kenaikan harag minyak juga disebabkan adanya kebakaran singkat di kilang Slavyansk di Kasnodar yang memproses 8,5 juta metrik ton minyak mentah per tahun, atau 170.000 barel per hari. Insiden ini terjadi pada Sabtu akhir pekan kemarin.
“Selain itu, pekan ini investor mencermati AS seiring pertemuan dua hari Federal Reserve yang hasilnya akan diungkapkan pada hari Rabu. Hal itu akan membawa lebih banyak kejelasan tentang waktu penurunan suku bunga,” ujar Tony Sycamore, seorang analis pasar IG, menulis dalam sebuah catatan.
Baca Juga
Harga Emas Batangan Antam Parkir pada Level Rp 1,19 Juta per Gram
Lebih lanjut, Sycamore menyebut The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah bulan ini, sementara kemungkinan pemotongan suku bunga pada pertemuan Juni nanti.
“Suku bunga yang lebih rendah akan merangsang permintaan di AS, mendukung harga minyak,” tambahnya,
Kedua kontrak minyak acuan selesai minggu lalu hampir 4% lebih tinggi meskipun turun pada hari Jumat. Minyak telah berkisar selama sebagian besar bulan lalu, tetapi pada hari Kamis laporan permintaan bullish dari Badan Energi Internasional/International Energy Agency (IEA) mengirim harga naik ke level tertinggi sejak November.
IEA memperkuat prospek permintaannya untuk keempat kalinya sejak November karena serangan Houthi di Laut Merah mendorong kapal untuk mengalihkan dan meningkatkan konsumsi bahan bakar. Untuk pertama kalinya IEA juga memperkirakan sedikit defisit tahun ini alih-alih surplus.
Sebagai informasi, pada penutupan hari Jumat (15/3/2024), Brent dan WTI berjangka masing-masing naik 11% dan 13%. (CR-5)

