Rebound Komoditas Kuartal III Berpotensi Angkat Bursa
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah penantian keputusan kenaikan suku bunga The Fed September nanti, enam sentimen positif diperkirakan bisa mengangkat bursa saham Indonesia. Hal ini antara lain rebound harga komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), gas, dan minyak pada kuartal III ini, didorong langkah Arab Saudi memangkas produksi minyak dan melonjaknya harga gas di Eropa.
“Yang kedua, saya nilai aliran dana masuk ke pasar modal Indonesia masih kuat. Net buy asing ytd 2023 sebesar Rp 1,47 triliun. Di bursa saham, IHSG secara ytd masih menguat 0,65%,” kata Founder & CEO CTA Saham Andri Zakarias Siregar dalam diskusi secara online, Sabtu (26/08/2023).
Sentimen positif yang ketiga adalah ekspektasi pemulihan ekonomi Indonesia di 2023, dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) diprediksi masih di atas 5%. Bahkan, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi dalam negeri masih bisa hingga 5,3% tahun ini. Pertumbuhan kita mengalahkan Tiongkok yang diproyeksikan tak mencapai 5% hingga tahun depan.
Baca Juga
Keempat, kebijakan suku bunga Bank Indonesia masih bertahan di level 5,75%. Hal ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi di atas 5%.
“Kelima,ada 27 IPO saham yang rencananya listing di BEI, termasuk 7 emiten jumbo hingga akhir 2023. Keenam, IHSG secara technical, masih bullish untuk medium term view selama bertahan di atas 200 day moving average di 6.831,” papar Andri.
Sentimen Negatif
Selain sentimen positif, lanjut Andri, ada lima sentimen negatif yang perlu dicermati para pelaku pasar. Yang pertama, prospek kenaikan suku bunga Bank Amerika Serikat (The Fed) yang kemungkinan masih biisa lebih dari 1 kali hingga akhir tahun 2023. Bank Sentral Eropa kemungkinan juga menaikkan suku bunga acuan untuk meredam ancaman kenaikan inflasi.
“Yang kedua, tren kenaikan harga komoditas energi dan pangan yang berpotensi mengangkat tingkat inflasi. Ketiga, peluang pelemahan rupiah terhadap dolar AS lantaran melonjakya yield Treasury AS 10 tahun, mendekati level tertingginya dalam 10 tahun terakhir,” ungkap Andri.
Baca Juga
Bukan Penutupan Produksi, Kemenperin Siapkan Empat Strategi Kendalikan Emisi Pabrik
Keempat, mulai memanasnya situasi politik menjelang pilpres 2024, yang mendorong investor wait and see. Kelima, siklus IHSG dalam 5 tahun terakhir, di mana pada bulan September mengalami 4 tahun koreksi, hanya 1 tahun yang menguat yakni di tahun 2021,” imbuhnya.
Sementara itu, laporan Bank Indonesia baru-baru ini menyebut, dampak perlambatan ekonomi global telah mendorong penurunan harga komoditas ekspor, di tengah kenaikan permintaan domestik menyusul suksesnya Indonesia menangani pandemi Covid-19. Hal ini memberi tekanan pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) hingga berbalik arah menjadi defisit US$ 7,4 miliar atau Rp 113 triliun, pada triwulan II 2023. Padahal, pada triwulan I sebelumnya, neraca masih surplus US$ 6,52 miliar.
Meski demikian, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menegaskan sebelumnya, kinerja NPI pada triwulan II 2023 tetap terjaga di tengah kondisi ketidakpastian global.

