Pengamat: Ekspor Komoditas Unggulan RI Berpotensi Turun di Kuartal IV-2023, Hilirisasi Jadi Solusi
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi memprediksi nilai ekspor komoditas unggulan RI akan cenderung menurun pada kuartal IV 2023. Hal tersebut diungkapkannya karena telah melihat tren yang terjadi pada kuartal III tahun ini.
"Ya saya kira mulai semester IV ini sampai dengan tahun depan itu trennya akan mengalami penurunan," ucap Fahmy saat dihubungi Investortrust.id, Rabu (15/11/2023).
Baca Juga
Tren atau kecenderungan menurun nilai ekspor komoditas unggulan yang terjadi pada kuartal III menurutnya masih akan berdampak pada kuartal berikutnya hingga tahun depan. Sehingga, ia mengimbau pemerintah meningkatkan pengolahan bahan baku menjadi barang siap pakai atau hilirisasi.
"Yang harus dilakukan Indonesia itu meningkatkan nilai tambah, misalnya dengan nikel. Itu kan dilarang ekspor, kemudian dia harus dihilirisasi di Indonesia, itu akan meningkatkan nilai tambah yang menjadi pendapatan Indonesia," terangnya.
"Juga untuk batubara, sudah banyak perusahaan yang mulai mengolah lebih lanjut menjadi sumber energi yang bersih. Di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan juga, misalnya Pertamina tapi belum berhasil. Tapi itu sebagai upaya meningkatkan nilai tambah selama ada penurunan tadi," tambah Fahmy.
Lebih lanjut, Fahmy menilai cara-cara tersebut yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan nilai ekspor komoditas unggulan di Indonesia agar tidak mengalami penurunan di kuartal IV 2023 atau 2024 mendatang.
"Saya kira itu bisa menjadi fokus untuk mendorong dan tahun depan akan bisa menambah ekspor sehingga nilai tambahnya akan meningkat," tandasnya.
Baca Juga
Ekspor Komoditas Unggulan RI Turun di Kuartal III 2023, Ini Penyebabnya
Adapun diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) belum ini ini mencatat nilai sejumlah komoditas unggulan Indonesia pada kuartal III 2023 mengalami penurunan atau lebih rendah jika dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year). Komoditas itu di antaranya ada batubara, crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit.
"Seperti contoh batu bara secara year on year turun 5,25 persen, kemudian CPO turun 6,29 persen, dan nikel naik sebesar 22,88 persen," ucap Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi persnya pada 6 November 2023. (CR-9)

