Ekspor Komoditas Unggulan RI Turun di Kuartal III 2023, Ini Penyebabnya
JAKARTA, Investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) belum ini ini mencatat nilai sejumlah komoditas unggulan Indonesia pada kuartal III 2023 mengalami penurunan atau lebih rendah jika dibandingkan dengan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year). Komoditas itu di antaranya batu bara, crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit.
"Seperti contoh batu bara secara year on year turun 5,25 persen, kemudian CPO turun 6,29 persen, dan nikel naik sebesar 22,88 persen," ucap Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi persnya pada 6 November 2023.
Baca Juga
Ekspor Makanan Minuman Capai US$ 3,38 Juta Hingga Agustus 2023
Mengenai nilai komoditas yang menurun pada kuartal III 2023 itu, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengungkapkan salah satu penyebabnya yang membuat komoditas unggulan lebih rendah dibandingkan tahun lalu pada kuartal yang sama tersebut.
"Saya kira berbeda dengan tahun lalu, Indonesia meraih windfall dari produk-produk batu bara, sawit dan tambang yang lainnya, itu lebih disebabkan karena adanya perang antara Rusia dengan Ukraina," ucapnya saat dihubungi Investortrust.id Senin (13/11/2023).
"Karena keduanya penghasil gas terbesar, kemudian juga penghasil minyak, dan itu supply-nya terhambat untuk masuk, dan ada embargo dari Amerika Serikat dan sebagainya," tambahnya.
Baca Juga
Harga Beras Indonesia Terus Melambung 19%, Pasokan Ekspor Anjlok
Tahun lalu, pasokan gas dari Rusia ke Eropa juga dihentikan, sehingga Eropa Kembali beralih ke pembangkit berbasis batu bara. "Sehingga permintaan batu bara itu meningkat cukup pesat termasuk dari Indonesia yang selama ini enggak pernah ekspor batubara ke Eropa," terang Fahmy.
Meskipun Rusia dan Ukraina masih terlibat konflik hingga saat ini, namun kondisinya sudah berbeda dan telah disepakati bahwa produk-produk komoditas dari masing-masing negara bisa kembali masuk ke pasar global. Sehingga tak lagi terjadi keterbatasan supply di pasar, dan pada akhirnya mengakibatkan harga komoditas, seperti batu bara dan CPO mengalami penurunan.
Tren penurunan pada sejumlah komoditas unggulan RI memang terjadi, namun BPS mencatat neraca perdagangan masih mengalami surplus selama 41 bulan berturut-turut, yakni mencapai US$ 7,83 miliar atau naik 0,17%. (CR-9)

