Dengan Asumsi Ini, Timah (TINS) Bisa Capai Laba Rp 1,09 Triliun di 2024, Bagaimana Sahamnya?
JAKARTA, investortrust.id – PT Timah Tbk (TINS) berpotensi mencatatkan lompatan laba bersih pesat sepanjang tahun ini dengan asumsi volume penjualan tercapai sesuai dengan target yang telah ditetapkan manajemen. Potensi berbalik menjadi laba dengan nilai pesat tahun ini juga didasarkan ekspektasi harga komoditas timah tetap tinggi.
Analis Trimegah Sekuritas Willinoy Sitorus mengatakan, harga timah global telah menunjukkan kenaikan sejak awal tahun dipicu penurunan inventori, sehingga harga mencapai level US$ 27 ribu per ton. Penurunan inventori dipicu atas keputusan pemerintah belum menerbitkan RKAB untuk ratusan perusahaan dan hanya dua perusahaan yang sudah mengantongi RKAB tahun ini.
Baca Juga
Timah (TINS) akan Balikkan Rugi Jadi Laba, Manajemen Ungkap Strategi Ini
“Hal ini berpotensi memangkas suplai timah global dari Indonesia tahun ini. Sebagaimana diketahui Indonesia tercatat sebagai negara dengan penyumbang besar pasokan timah global,” tulis riset yang diterbitkan di Jakarta, kemarin.
Berdasarkan data tahun 2022, Indonesia mengekspor sebanyak 78 ribu ton refined tin. Angka tersebut setara dengan 20% dari pasokan timah global. Sedangkan PT Timah sendiri mengontribusi sebanyak 24% dari total ekspor timah dari dalam negeri.
Willinoy melanjutkan, dengan asumsi rata-rata harga jual timah mencapai US$ 27.250 per ton dan volume produksi TINS mencapai 30 ribu ton, terbuka peluang raihan laba bersih Rp 1,09 triliun tahun ini. Angka tersebut berbanding terbalik dengan rugi bersih TINS tahun lalu senilai Rp 450 juta.
Baca Juga
Sedangkan apabila Timah berhasil mengerek volume produksi menjadi 40 ribu ton tahun ini, potensi laba bersih Timah mencapai Rp 1,45 triliun tahun 2024. “Harga saham TINS telah melorot 57% terhitung dari level tertingginya pada 18 Mei 2022 senilai Rp 2.100. Sedangkan dalam 6 bulan terakhir, harga TINS naik 56%, namun masih jauh dari level tertinggi,” terangnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Timah (TINS) Ahmad Dani Virsal mengatakan, perseroan akan meningkatkan kinerja operasional bersamaan dengan efisiensi tahun 2024. Perseroan membidik kenaikan produksi timah menjadi 30.000 ton, dibandingkan realisasi tahun lalu mencapai 14.885 ton.
Baca Juga
Suami Sandra Dewi, Harvey Moeis Jadi Tersangka Kasus Korupsi Timah
Dengan peningkatan produksi tersebut, dia mengatakan, pendapatan bertumbuh dan bisa kembali mencetak laba bersih. “Concern kita adalah produksi dan efisiensi yang bisa dikontrol, sehingga diharapkan cost turun dan margin naik,” papar Ahmad di Jakarta kemarin.
Tahun lalu, perseroan memproduksi sekitar 14.000 - 15.000 ton timah dengan rata-rata harga jual US$ 26 ribu per ton. Sedangkan target harga jual tahun ini diharapkan bertumbuh, seiring dengan tingginya permintaan global.
Manajemen Timah optimistis proyeksi peningkatan produksi tersebut sejalan dengan berlanjutnya pertumbuhan permintaan timah global. Komoditas ini sangat dibutuhkan sebagai bahan baku produksi alat elektronik.

