Meski Royalti Naik Jadi US$ 1,4 miliar, Adaro Energy (ADRO) Tetap Cetak Laba US$ 1,87 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) membukukan penurunan laba inti sebanyak 38% dari US$ 3,01 miliar pada 2022 menjadi US$ 1,87 miliar pada 2023. Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan pendapatan mencapai 20% dari US$ 8,10 miliar menjadi US$ 6,51 miliar.
Manajemen ADRO dalam penjelasan resminya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (1/3/2024) menyebutkan penurunan kinerja keuangan tersebut dipengaruhi atas penurunan rata-rata harga jual batu bara perseroan sebanyak 26%. Padahal, volume produksi dan penjualan berhasil bertumbuh masing-masing 5% dan 7% menjadi 65,88 juta dan 65,71 juta ton.
Baca Juga
Transaksi Afiliasi, Manuver Anak Usaha Adaro (ADRO) di Ujung Tahun
“Walaupaun produksi dan penjualan batu bara perseroan mencapai rekor dan melampaui target berkisar 62-64 juta ton. Perseroan diofset dengan penurunan 26% rata-rata harga jual,” jelasnya dalam penjelasan resmi tersebut.
Perseroan juga mencatatkan kenaikan beban pokok penjualan sebanyak 15% menjadi US$ 3,98 juta pada 2023. Kenaikan dipicu atas peningkatan biaya royalty kepada pemerintah, biaya penambangan dan pemrosesan akibat peningkatan volume. Perseroan mencatatkan peningkatan pengupasan lapisan penutup sebanyak 22% menjadi 286,35 juta bcm dan nisbah kupas 4,35 kali.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer ADRO Garibaldi Thohir mengatakan, perseroan senang dengan pencapaian tahun 2023 didukung produksi produksi lampaui target dan efisiensi operasional yang kuat guna mendukung kemajuan Grup Adaro.
Baca Juga
Diversifikasi Kekuatan Baru Adaro (ADRO), Begini Prospek Sahamnya
Perseroan juga menunjukkan perkembangan yang terus membaik dalam investasi pada bisnis-bisnis non batu bara termal. “Tahun ini, kami memulai konstruksi smelter aluminium di kawasan industri dan meletakkan batu pertama untuk pembangkit listrik tenaga air di Kalimantan Utara. Selain itu, diversifikasi ke bisnis batu bara metalurgi juga mencapai hasil yang baik, dengan batu bara metalurgi meliputi 17% dari pendapatan perseroan tahun 2023,” terangnya.
Secara keseluruhan, dia mengatakan, perseroan optimistis terhadap prospek masa depan Grup Adaro dan sejumlah upaya diversifikasi sumber pendapatan yang sedang digencarkan perseroan.
Royalti Pemerintah
Manajemen ADRO menyebutkan bahwa royalti yang dibayarkan perseroan kepada pemerinta meningkat sebanyak 19% menjadi US$ 1,4 miliar tahun 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 1,23 juta.
Sebaliknya beban pajak penghasilan yang dibayarkan turun 73% menjadi US$ 439 juta dari US$ 1,64 miliar. “Setelah mendapatkan IUPKKOP pada September 2022, ADRO menerapkan ketentuan perpajakan dan penghasilan negara bukan pajak (PNBP) sesuai aturan yang berlaku sejak 1 Januari 2023. IUPK-KOP telah meningkatkan tarif royalti AI ke rentang 14-28%, dibandingkan tarif sebelumnya 13,5%. Namun, tarif pajak penghasilan badan turun dari 45% menjadi 22%,” terangnya.
Baca Juga
Saat Batu Bara Turun, Laba Adaro Minerals (ADMR) justru Melesat 23%, Kok Bisa?
IUPKKOP juga menyebabkan perubahan lainnya pada bisnis ADRO, seperti PNBP untuk porsi pemerintah pusat dan daerah sesuai ketentuan hukum dan perundang-undangan. ADRO menyumbang 74% terhadap produksi batu bara Grup Adaro pada 2023.
Sebelumnya, perseroan melalui anak usahanya PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) berhasil mencatatkan peningkatan laba inti sebanyak 23% menjadi US$ 421,01 juta pada 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 341,67 juta.
Lonjakan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan sebanyak 20% dari US$ 908,14 juta menjadi US$ 1,08 miliar. Kenaikan kinerja keuangan tersebut ditopang lompatan volume penjualan batu bara perseroan sebanyak 39% pada 2023. Kenaikan tersebut mampu mengimbangi penurunan rata-rata harga jual mencapai 14.
Kinerja Keuangan ADRO

