Rencana Realistis Bluebird (BIRD), Taksi Listrik hanya Ditambah 100 Unit Tahun 2024
JAKARTA, investortrust.id – PT Blue Bird Tbk (BIRD) membidik penambahan jumlah kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebanyak 100 unit, menjadi 300 unit pada akhir 2024 dari realisasi saat ini di kisaran 200 unit. Jumlah tersebut masih di kisaran 1% dari total armada taksi yang perusahaan miliki.
Chief Strategy Officer Blue Bird Andrew Arristianto menyebutkan, saat ini Bluebird telah mengoperasikan sekitar 200 unit EV untuk e-BlueBird, e-SilverBird, dan e-GoldenBird.
Operator taksi berlogo burung tersebut menargetkan, jumlah taksi EV yang mereka operasikan akan mencapai 10% dari total armada pada 2030. Namun manajemen belum bisa memastikan berapa persen rasio EV yang dapat dipenuhi tahun ini.
“Ada (target naik tahun 2024) tetapi kami belum bisa memastikan, karena kami belum bisa memilih. Sekarang insentifnya banyak, pemain barunya juga banyak. Kami masih harus lihat-lihat lagi mana yang akhirnya cocok untuk kebutuhan kami,” jelas Andrew menjawab Investortrust.id, baru-baru ini.
Baca Juga
Tancap Gas di Bisnis Non-Taxi, Intip Target Harga Saham Terbaru Blue Bird (BIRD)
Padahal perseroan telah menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 2 triliun pada 2024 untuk seluruh divisi, termasuk upaya mencapai 500 unit EV tahun ini.
Total capex ini hampir setara dua kali lipat atau naik 100% bila dibandingkan serapan belanja modal perusahaan sampai kuartal III-2023 senilai Rp 1,02 triliun.
Mayoritas capex Bluebird 2024 atau sekitar 50% akan dianggarkan untuk 5.000 unit taksi, dalam bentuk penambahan maupun peremajaan pada seluruh jenis armada.
“Iya (anggaran sudah ada) tetapi kan harganya (EV) berubah-ubah. Jumlahnya (armada) akan menyesuaikan karena kami tahu harga EV continuously turun, dengan insentif segala macam jadi jumlahnya belum bisa mantap (pasti),” sambung Andrew.
Dia juga masih belum yakin saat ditanya apakah rasio jumlah armada EV Bluebird akan mencapai 2% dari total unit yang ada tahun ini. Pertimbangannya, Andrew menyebutkan, tidak semua EV roda empat yang masuk ke Indonesia sudah mendapat insentif pemerintah.
Manajemen Bluebird mengakui, ada beberapa kendaraan yang perusahaan minati namun belum masuk ke Indonesia, sehingga pembelian armada listrik belum bisa agresif.
Baca Juga
Pengendali Sekaligus Direktur Blue Bird (BIRD) Borong Saham dari Pasar, Ada Apa?
“Kalau dilihat sekarang yang masuk (Indonesia) five seater mobil-mobil seperti crossover yang di bawah empat meter, jadi agak kecil city car-nya. Itu blm 100% cocok untuk keperluan kami jadi kami masih cari yang cocok,” simpulnya.
Dalam kesempatan berbeda, Direktur Utama Blue Bird Adrianto Djokosoetono menyampaikan, perusahaan akan menggelontorkan investasi proyek ekosistem EV sebesar Rp 250 miliar di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Emiten berkode BIRD tersebut akan melakukan pengadaan taksi listrik sekitar 100 unit, mobil rental listrik 50 unit, bus listrik 10 unit, hingga titik pengisian daya (listrik) kendaraan dan depo.
Manajemen memperhitungkan, berbagai insentif yang diberikan pemerintah terkait EV baru akan berdampak langsung terhadap perusahaan operator sekitar 1-2 tahun ke depan.
“Baru kami bisa memahami oke inilah situasinya, industrinya, dan produk-produk line up-nya dari situ baru kami bisa lebih agresif,” tutup Andrew. (CR-10)
