Digitalisasi Kian Masif, Saham Telkom (TLKM) Bisa Naik Segini
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tampak masih sulit mendaki menuju level psikologi Rp 4.000. Saat penutupan sesi 1 perdagangan saham, Selasa (12/9/2023) harga emiten halo-halo ini bertengger pada level Rp 3.710.
Kendati begitu, sejumlah analis masih optimistis terhadap saham TLKM, termasuk Tim Riset Samuel Sekuritas. Dalam riset terbarunya Samuel masih mempertahankan rekomendasi beli untuk TLKM.
‘’Kami mempertahankan pandangan positif terhadap TLKM, karena kami yakin bahwa dominasinya di pasar telco akan membantu mendukung pertumbuhan pendapatan dan profitabilitasnya dalam jangka panjang,’’ tulis Tim Riset Samuel Sekuritas Jonathan Guyadi dan Brandon Boedhiman, Selasa (12/9/2023).
Saham TLKM ditargetkan bisa menggapai Rp 4.500, yang menyiratkan EV/EBITDA 2024 sebesar 7,1 kali.
Baca Juga
Agustus 2023, Waskita Karya (WSKT) Catat Kontrak Baru Rp 11,2 Triliun
Kendati begitu Samuel menyebut emiten ini tidak lepas dari risiko terutama terkait semakin ketatanya persaingan di sektor telekomunikasi.
Ketatnya persaingan disebut masih tetap punya peluang besar bagi TLKM untuk bertumbuh, karena dukungan populasi sekitar 275 juta jiwa Indonesia, 77% dari jumlah penduduk merupakan pengguna internet.
Sementara di sisi lain dalam hal penetrasi internet, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia (Indonesia: ~67%; China: 74.9%; Thailand: 85.3; Filipina: 73.1%). Tingkat penetrasi yang cenderung rendah tersebut mengindikasikan adanya ruang pertumbuhan yang besar bagi sektor telekomunikasi Indonesia, yang nilainya diperkirakan akan mencapai US$ 17.8 miliar pada tahun 2027.
Baca Juga
Recurring Income Pakuwon Jati (PWON) Bisa Tumbuh 75%, Cek Pendorongnya
Khusus layanan 5G di Indonesia diperkirakan akan bertumbuh dengan CAGR sebesar 138% pada tahun 2022-2027, mencapai US$ 6.2 miliar di 2027, sedangkan nilai pasar broadband FTTP/H diperkirakan akan mencapai angka US$ 4.9 miliar di 2027.
Dari sisi B2B, belanja ICT dari sektor bisnis diperkirakan akan mencapai US$ 16.6 miliar pada 2027, memberikan ruang pertumbuhan yang besar bagi bisnis ICT dan cloud di Indonesia. Saat ini, rasio belanja teknologi B2B terhadap PDB Indonesia berada pada ~0.7%, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara Asia lainnya, sedangkan rasio belanja cloud berada pada angka 0,07%.
‘’Kami percaya bahwa digitalisasi akan semakin populer di dunia usaha Indonesia, karena digitalisasi diperkirakan dapat membantu perusahaan memangkas biaya sebesar ~510% dan meningkatkan produktivitas keseluruhan secara signifikan, sekaligus mengatasi masalah rendahnya produktivitas di Indonesia,” ujarnya.

