Target Penjualan Meleset, Rugi Bersih Alfa Energi (FIRE) Membengkak
JAKARTA, investortrust.id – Emiten tambang batu bara, PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) belum mampu lepas dari kerugian kinerja keuangan. Hingga periode September 2023, rugi komprehensif periode berjalan FIRE malah membengkak dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2023 yang publikasikan, Minggu (12/11/2023), FIRE mengakumulasi rugi bersih Rp 12,64 miliar. Angka tersebut naik 1,70% year on year (yoy) dari rugi bersih yang diderita sebelumnya Rp 12,86 miliar.
Rugi bersih sejalan dengan penurunan penjualan sebesar 38,20% yoy menjadi Rp 104,28 miliar di kuartal III-2023, dari Rp 168,75 miliar per kuartal yang sama tahun sebelumnya. Penurunan penjualan ini diikuti penurunan beban pokok penjualan menjadi Rp 91,17 miliar dibanding Rp 120,51 miliar.
Baca Juga
Saham Konsumer Grup Salim (INDF) dan Wilmar (CEKA) Undervalued, Berpeluang Naik di Musim Pemilu
Alhasil Perseroan mencatat laba kotor Rp 13,11 miliar, anjlok dalam dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 48,24 miliar. Sedangkan laba usaha tercatat Rp 14,40 miliar, naik tipis dari Rp 14,30 miliar per kuartal III-2022.
Dari sisi neraca, FIRE mencatat jumlah aset Rp 380,38 miliar, naik dibanding periode 31 Desember 2022 sebesar Rp 364,32 miliar. Sedangkan jumlah liabilitas naik menjadi Rp 178,92 miliar per 30 September 2023, dibanding Rp 150,23 miliar per 31 Desember 2022.
Sementara total ekuitasnya Rp 380,38 miliar per 30 September 2023, naik disbanding posisi 6 bulan sebelumnya yang tercatat Rp 364,32 miliar. Kerugian yang diderita membuat rugi per saham tercatat Rp 8,75, sedikit turun dari rugi per saham Rp 8,90 pada kuartal III-2022.
Sebelumnya Manajemen FIRE mengaku pesimistis meraih target penjualan sebesar 420 ribu ton tahun 2023, sebagaimana ditargetkan sebelumnya. Disebabkan tidak perform-nya beberapa supplier.
Baca Juga
Teman Investor! Ini Jajaran Saham Infrastruktur yang Masih Undervalued
Terkait supplier nakal itu, FIRE mengaku akan menempuh jalur hukum dengan tetap mengedepankan aspek keterbukaan dan legalitas yang berlaku.
Kendati begitu Perseroan menyebut terdapat kenaikan tarif transshipment di Muara Berau yang bisa mempengaruhi margin Perseroan. “Kenaikan tarif angkut akan membuat cost Perseroan menjadi naik,” ujarnya.
Sebagai catatan, FIRE mengandalkan produksi batu bara dari lokasi tambang anak usaha PT Alfara Delta Persada, dengan luas area 2.089 hektare, di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Sementara anak usaha lainnya PT Berkat Bara Jaya (BBJ) sedang berusaha mengembalikan izin usaha pertambangan (IUP) setelah dicabut oleh Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal pada Maret 2022.
“Saat ini kami sedang memaksimalkan proses kasasi di Mahkamah Agung guna mendapatkan IUP BBJ kembali dan untuk rencana akuisisi tambang-tambang baru belum ada, tetapi jika dikemudian hari ada rencana maka akan kami informasikan lebih lanjut,” papar Manajemen FIRE.

