Pendapatan Sritex (SRIL) Anjlok 47,59% di Tengah Ancaman Delisting Saham
JAKARTA, investortrust.id – Emiten tekstil dan garmen milik konglomerat keluarga Lukminto, PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) sedang diambang delisting atau pencoretan pencatatan saham dari bursa saham.
Bursa Efek Indonesia telah menyampaikan pengumuman dan peringatan kepada pelaku pasar terhadap potensi delisting, setelah saham SRIL dibekukan atau disuspensi selama lebih dari 30 bulan, akibat persoalan utang Perseroan yang belum terbayar. Total kewajiban SRIL tercatat mencapai Rp 1,55 triliun per September 2023.
Pengumuman BEI yang ditandatangani P.H. Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 3 BEI, Natal Naibaho dan Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, Pande Made Kusuma Ari, Senin malam (20/11/2023), mengimbau publik untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk informasi yang disampaikan oleh Perseroan.
Baca Juga
Sritex (SRIL) Terancam Delisting Setelah 30 Bulan Saham Disuspensi
Di tengah kondisi tersebut, Manajemen SRIL menyampaikan laporan kinerja keuangan periode kuartal III-2023, Selasa (21/11/2023).
Dalam laporan keuangan tersebut, tampak kondisi keuangan perusahaan yang berbasis di Sukoharjo, Jawa Tengah tersebut sedang tidak baik-baik saja. Perseroan hanya mampu membukukan penjualan bersih Rp 248,51 miliar, anjlok 47,59% secara year on year (yoy) dari Rp 474,17 miliar di kuartal III-2022.
Beban pokok tercatat sebesar Rp 351,08 miliar, turun dari Rp 638,97 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya. Alhasil perseroan harus menanggung rugi kotor sebesar Rp 66,57 miliar, padahal pada periode yang sama masih membukukan laba kotor Rp 164,80 miliar.
Baca Juga
Investor Ini Lepas Ratusan Juta Saham Sejahteraraya (SRAJ), Ada Apa?
Perseroan juga harus menanggung rugi operasi sebesar Rp 105,14 miliar, turun dari rugi operasi yang diderita tahun sebelumnya Rp 144,81 miliar. Sedangkan rugi komprehensif yang ditanggung mencapai Rp 114,52 miliar, turun dari Rp 148,70 miliar pada kuartal III-2022.
Dari sisi neraca tercatat total asset menurun menjadi Rp 653,51 miliar per 30 September 2023, padahal pada 31 Desember 2022 tercatat Rp 764,55 miliar. Adapun total liabilitas tercatat mencapai Rp 1,55 triliun, relatif sama dengan posisi liabilitas 6 bulan sebelumnya.
Dari sisi ekuitas, perseroan mencatat pembengkakan ekuitas negatif menjadi Rp 895,53 miliar dibanding posisi 31 Desember 2022 yang tercatat Rp 781,09 miliar.

