Serap Capex Rp 125 Miliar, Bundamedik (BMHS) Ungkap Investasi Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Bundamedik Tbk (BMHS) telah menyerap anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 125 miliar hingga September 2023. Realisasi tersebut setara dengan 62,5% dari anggaran tahun ini berkisar Rp 200 miliar.
“Hingga September 2023, kami sudah berinvestasi sebanyak Rp 125 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan rumah rumah sakit maupun Morula IVF,” ujar Direktur Keuangan Bundamedik Cuncun Wijaya dalam Public Expose Live secara virtual, Senin (27/11/2023).
Baca Juga
Bank BTN (BBTN) Cetak Laba Bersih Rp 2,31 Triliun di Kuartal III-2023
Morula IVF Indonesia merupakan bagian dari Bundamedik Healthcare System yang fokus dalam pengembangan klinik fertilitas di Indonesia. Dalam pengembangan Bundamedik Healthcare System, perseroan mendirikan Klinik Fertilitas Morula pada 1997 yang kini telah berganti nama menjadi Morula IVF Jakarta.
Morula IVF telah menjadi salah satu klinik fertilitas terbesar di Indonesia dengan peningkatan pasien yang mengikuti program bayi tabung semakin bertambah setiap tahun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 30% per tahun.
Namun manajemen belum mengungkapkan rinci ekspansi dalam bentuk akuisisi rumah sakit. Managemen mengakui rencana kerja perusahaan (RKP) 2024 masih disusun, sebab anggaran tahun 2023 masih berjalan.
“Tetapi memang untuk rencana akuisisi maupun apa yang akan kami bangun di land bank kami pun belum bisa diinformasikan sampai RKP selesai,” sambung Cuncun.
Baca Juga
Net Buy Rp 831,17 Miliar, Asing Borong Tiga Saham Bank BUMN Ini
Dia mengingatkan bahwa land bank perseroan maupun rumah sakit yang sudah dimiliki (existing) masih bisa diperluas untuk menambah jumlah tempat tidur (bed). Hal ini menjadi andalan perusahaan untuk mengembangkan bisnis tahun depan. “Tetapi jumlah dan porsi berapa alokasi masing-masingnya, belum bisa kami informasikan,” imbuh dia.
Dalam kesempatan yang sama, manajemen Bundamedik turut menegaskan bahwa periode yang mereka butuhkan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (payback period for investing) ditargetkan dalam kurun 5-7 tahun. “Lima tahun paling cepat. Ini masih kompleks untuk investasi yang kami lakukan, baik akuisisi maupun yang kami bangun sendiri,” tegas Cuncun.
Baca Juga
Untuk sumber pembiayaan, Direksi Bundamedik juga mengaku masih punya ruang yang luas untuk menambah fasilitas kredit. Pasalnya, net debt per ebitda perusahaan saat ini rasionya masih di kisaran 1. Padahal perusahaan menjaga level net debt per ebitda di kisaran 3. “Berarti kami masih ada head room untuk investasi pengembangan di Bundamedik,” terangnya. (CR-10)

