Investor Kakap Ini Sarankan Hindari Pasar Saham di AS, Begini Alasannya
JAKARTA, Investortrust.id - Jeremy Grantham, co-founder dan chief investment strategist di Perusahaan Manajer Investasi Grantham, Mayo, Van Otterloo & Co LLC (GMO LLC) yang berbasis di Boston, menilai bahwa pasar saham Amerika Serikat menawarkan kegelapan dan keterpurukan yang dalam di masa mendatang.
Investor ternama asal Inggris ini telah membuat pernyataan pasar yang cukup berani, mengenai kemungkinan indeks S&P 500 bakal turun lebih dari 50%. "Jangan berinvestasi di Amerika Serikat," katanya, merujuk pada krisis utang sebesar US$33 triliun, lingkungan suku bunga yang tinggi, tingkat imbal hasil yang tidak sustain, serta besarnya tantangan di pasar real estat dan hipotek.
Sebaliknya, ia justru menyarankan untuk melirik pasar negara-negara maju lain seperti Inggris, Jepang, dan sejumlah negara Eropa sebagai alternatif, yang menurutnya "lebih murah" dibanding investasi di Amerika Serikat.
Baca Juga
Inflasi dan Kenaikan Yield Obligasi Tekan Pasar Saham AS, Indeks Utama Wall Street Berguguran
"Secara umum, tampaknya seluruh dunia bisa dijadikan pilihan investasi," katanya. "Lakukan analisis Anda, ‘make your mistakes’, namun cukup masuk akal," tuturnya dalam sebuah program podcast Merryn Talks Money yang ditayangkan Bloomberg, Kamis (12/10/2023).
Grantham memang mengungkapkan sejumlah alasan mengapa ia begitu khawatir dengan kondisi pasar saham Amerika Serikat.
Grantham memiliki pandangan yang sangat pesimistis terhadap pasar Amerika Serikat. Seperti diungkapkan Merryn Somerset Webb selaku host, Grantham dikenal sebagai ahli strategi investasi sohor karena analisisnya tentang gelembung ekonomi dan perkiraan pesimisnya yang belakangan terbukti. Salah satunya analisisnya pada tahun 2000 ketika gelembung industri dot com meledak, dan krisis hipotek berkualitas rendah pada tahun 2007-2008.
Baca Juga
Cermati Data Perdagangan China dan Australia, Mayoritas Pasar Saham Asia Melemah
Grantham mengemukakan, "area yang paling rentan" di pasar Amerika Serikat saat ini adalah Indeks Russell 2000, sebuah indeks pasar saham AS berkapitalisasi kecil yang terdiri atas 2.000 saham terkecil dalam Indeks Russell 3000. Indeks ini sering dianggap sebagai penunjuk utama ekonomi AS karena fokusnya pada perusahaan-perusahaan kecil yang membentuk sebagian besar bisnis di negeri Paman Sam.
Menurut Grantham, Indeks Russel 2000 berisi 'perusahaan zombie' yang sangat besar, perusahaan yang sebenarnya hanya bisa membayar bunga utangnya dengan cara menerbitkan lebih banyak utang. Ia juga menambahkan, sekitar 40% atau lebih, perusahaan yang masuk dalam indeks ini tidak memiliki laba dan memiliki rekor utang.
Indeks S&P 500 pun tak luput dari pandangan pesimismenya. Bahkan ia memperkirakan indeks ini akan turun di bawah 3.000 poin, yang menurutnya cukup beralasan. Saat ini Indeks S&P 500 berada di sekitar 4.300 poin.
Lebih lanjut, Grantham mengatakan, "Jika terjadi sesuatu hal buruk, yang memang kadang terjadi, saya tidak akan terkejut jika indeks ini turun hingga 2.000 poin." Namun, ia menekankan bahwa kondisi ini bisa terjadi jika beberapa peristiwa negatif yang signifikan benar-benar berlangsung.
Sebenarnya, kata Grantham, yang membawa pasar saham Amerika Serikat dan mengukuhkan dominasinya di tingkat global adalah saham-saham yang ia sebut "Magnificent Seven", tujuh perusahaan terbesar di Amerika Serikat berdasarkan kapitalisasi pasar. Mereka adalah Apple, Microsoft, Amazon, Google, Nvidia, Tesla, dan Meta.
Ia mengatakan bahwa pendapatan dan kinerja pasar saham yang luar biasa dari Magnificent Seven tahun inilah yang menghasilkan "munculnya perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar multitriliun dolar." Kebesaran Magnificent Seven juga tak lepas dari peran para private equity yang terus mencatatkan kenaikan kepemilikan secara stabil.
“Namun, jika kita mengabaikan mereka dalam perhitungan, S&P 500 tidak akan mengalami kenaikan selama tahun ini," kata Grantham.
Ia juga mengatakan, tidak pernah ada pasar yang begitu sempit. "Apa yang akan terjadi pada mereka jadi pertanyaan yang sangat menarik. Apakah mereka akan terus tumbuh dan mengisi 70% dari kapitalisasi pasar global? Akankah mereka diserang oleh pemerintahan sejumlah negara? Akankah mereka saling menyerang dan masuk ke pasar satu sama lain serta mengurangi margin keuntungan mereka? Siapa yang tahu," tuturnya.
Di tengah ketidakpastian semacam ini, ada berbagai cara untuk mengurangi risiko dalam portofolio investasi di pasar saham AS. Salah satunya yang ia tekankan adalah memperhatikan kualitas. "Kualitas telah menjadi aset yang salah harga selama 100 tahun," katanya.
Ia memberikan contoh obligasi AAA, yang dianggap memiliki kredibilitas tertinggi dan tingkat risiko investasi terendah. "Mereka tampil baik di pasar yang bearish dan tampil kurang baik di pasar yang bullish... karena mereka membosankan," katanya.
"Saat pasar bullish, Anda ingin memiliki saham Tesla, Anda ingin memiliki ‘saham meme’, Anda ingin memiliki saham yang sedang naik," lanjut Grantham.
Baca Juga
Raksasa Properti Evergrande Ajukan Pailit, Pasar Saham Asia Terpuruk
Sekedar informasi, saham meme atau meme stocks dalah ungkapan yang merujuk pada saham-saham perusahaan yang menjadi populer dan mendapatkan perhatian besar dari pasar saham, terutama karena popularitas mereka di media sosial dan internet, bukan karena fundamental atau kinerja keuangan yang kuat.
"Anda tidak ingin memiliki saham Coca-Cola. Itu terlalu membosankan. Namun, dalam jangka panjang, Coca-Cola berkinerja sangat baik."
Ia menambahkan, "Ketika berbicara tentang kualitas, mereka memiliki risiko yang lebih rendah. Mereka memiliki utang yang lebih sedikit, rendah (potensi) bangkrut, volatilitas yang lebih rendah, beta yang lebih rendah, namun tetap tampil baik."
Menurut Grantham, investasi berkualitas adalah perusahaan yang memiliki utang rendah dan tingkat return yang tinggi dan stabil.
