Sepekan Bitcoin Terjun lebih dari 8%, Ternyata Ini Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – Harga Aset Kripto Bitcoin (BTC) telah turun mencapai 8,34% dalam sepekan dari level US$ 46.700per koin menjadi US$ 42.880 pada perdagangan intraday, Selasa (16/1/2024).
Fluktuasi harga Bitcoin dalam sepekan terakhir dipengaruhi atas Keputusan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat (AS) yang menyetujui keberadaan produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika pada Rabu (10/1/2024).
Menjelang pengumuman keputusan pasar aset kripto cukup berfluktuatif, bahkan sempat mendorong harga Bitcoin menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir yakni US$ 48.983 dalam perdagangan Kamis (11/1).
Baca Juga
Namun, tidak bertahan lama Bitcoin turun dari level tertingginya ke level US$ 41.500 pada Sabtu (13/1) dan pagi ini Selasa (16/1) pukul 08.00 WIB bertengger di harga US$ 42.700 naik 0,7% dalam 24 jam terakhir, namun masih anjlok 9,55% dalam sepekan terakhir.
“Dengan disetujuinya ETF Bitcoin spot terlihat terjadinya sell the news yang menyebabkan kenaikan Bitcoin tidak bertahan lama. Investor telah mengantisipasi kenaikan tersebut mengambil untung (profit taking),” jelas Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha secara tertulis, Selasa (16/1/2024).
Peristiwa buy the rumor perihal ETF Bitcoin spot ini telah dimulai sejak Blackrock mengajukan aplikasi ETF Bitcoin pada Juni 2023. Saat itu harga BTC sekitar US$ 25.000.
“Meski demikian, penurunan ini kemungkinan hanya dalam jangka pendek di mana potensi bullish hingga akhir tahun berpotensi akan tetap berlanjut,” tutur Panji yakin.
Sebanyak 11 produk investasi ETF Bitcoin spot resmi diperdagangkan di AS pada 11 Januari 2024, dengan volume perdagangan mencapai sekitar US$ 4,6 miliar pada hari pertama. Meski, SEC menegaskan bahwa persetujuan ini tidak mencerminkan dukungan atau persetujuan terhadap Bitcoin (BTC).
Baca Juga
Pajak Aset Kripto Membengkakkan Biaya Transaksi Perusahaan Terdaftar, Daya Saing Anjlok
“Secara teknikal, Bitcoin mulai bergerak stabil setelah penurunan dalam beberapa hari terakhir yang menunjukan indikasi rebound moving average (MA-50) dan menuju area MA-20 di US$ 43.650,” sambung Panji.
Jika berhasil menembus MA-20, BTC berpotensi naik menuju resistance US$ 44.500. Sementara, perlu antisipasi jika Bitcoin gagal rebound MA-50, ada potensi penurunan ke support terdekat di US$ 40.500.
Di sisi lain, kapitalisasi pasar kripto global pada Selasa (16/1) bertengger di US$ 1,63 triliun, naik 1,05% dalam 24 jam terakhir. Namun masih turun dari level tertinggi dalam dua tahun terakhir di US$ 1,8 triliun yang dicapai pada Kamis (11/1). (CR-10)

