Kapitalisasi Pasar Saham Susut 0,32% Sepekan, Ini Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – Perdagangan pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan di awal Oktober 2023.
Terpantau periode 2-6 Oktober 2023, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 0,74% ke level 6.888,518. Pekan lalu IHSG bertengger di posisi 6.939,892.
Mengacu pada data BEI, pelemahan IHSG sejalan dengan kapitalisasi pasar bursa saham yang turun 0,32% menjadi sebesar Rp10.255 triliun dari Rp10.288 triliun pada pekan sebelumnya.
Baca Juga
Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian bursa tercatat turun cukup dalam 11,72% menjadi Rp10,32 triliun dari Rp11,69 triliun pada pekan sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa, yaitu sebesar 26,10% menjadi 18,12 miliar lembar saham dari 24,52 miliar lembar saham pada sepekan yang lalu.
Praktis hanya rata-rata frekuensi transaksi harian bursa yang menguat di pekan pertama Oktober.
"Penguatan rata-rata frekuensi perdagangan sebesar 2,55% menjadi 1.235.080 kali transaksi, dari 1.204.385 kali transaksi pada penutupan pekan yang lalu," papar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmadi, dalam keterangan yang dikutip, Sabtu (7/10/2023).
Baca Juga
Beli Kapal Baru, Wintermar (WINS) Jamin Pembiayaan Anak Usaha Rp 27 Miliar
Pelemahan IHSG selama sepakan termasuk dipicu oleh aksi jual asing, BEI mencatat nilai jual bersih asing sebesar Rp26,88 miliar pada penutupan perdagangan Jumat (6/10/2023).
Sedangkan sepanjang tahun 2023 investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp5,249 triliun.
Tim Riset PT Samuel Sekuritas menyebut, pelemahan pasar saham domestik disebabkan karena pemodal menanti rilis data laporan pekerjaan yang akan menentukan arah suku bunga. Selain itu pelemahan rupiah dan harga komoditas juga turut memicu aksi jual investor, terutama pada saham-saham energi.
Sementara data ketenakerjaan AS yang dirilis, Jumat malam, pukul 19.30 WIB, menunjukkan kondisi yang kuat, bahkan naik meyakinkan dalam delapan bulan pada September. Data ini diharapkan mempengaruhi kebijakan suku bunga The Fed untuk tidak melanjutkan penaikan suku bunga acuan pada November 2023.

