Pemerintah Ingatkan Misinformasi dan Disinformasi Bisa Pengaruhi Iklim Investasi
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Investasi/BKPM mengungkapkan misinformasi dan disinformasi yang kerap terjadi saat musim pemilihan umum (Pemilu) bisa berimbas terhadap investasi suatu negara.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan menyebutkan, World Economic Forum (WEF) mengelompokkan risiko global ke dalam lima kategori. Di antaranya adalah economic, environmental, geopolitical, societal, dan technological.
Baca Juga
Saat Harga Murah, Dua Investor Ini Borong Saham Cashlez (CASH)
Nurul Ichwan menyampaikan, secara global dari masing-masing kelompok tersebut, yang memiliki risiko global terbesar adalah perlemahan pertumbuhan ekonomi. Kemudian diikuti dengan krisis sumber daya alam, lalu konflik bersenjata.
“Selanjutnya yang keempat adalah polarisasi sosial dan yang kelima misinformasi dan disinformasi yang pada gilirannya ini berkontribusi terhadap persaingan menarik investasi yang semakin sulit,” kata Nurul Ichwan dalam acara Investortrust Economic Outlook 2024, Kamis (25/1/2024).
Dipaparkan Nurul Ichwan, misinformasi dan disinformasi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap polarisasi masyarakat (societal polarization). Sebab, social polarization bisa menciptakan lack of economic opportunity.
Baca Juga
Ketidakpastian Global Tinggi, Pengusaha Minta Pemerintah Jaga Kondusivitas Iklim Investasi
“Polarisasi itu menutup sebagian besar potensi-potensi ekonomi. Kalau potensi ekonomi ini sudah juga tertutup maka kemudian risiko yang besarnya adalah bisa memunculkan unemployment, yang pada gilirannya memunculkan economic downturn, yang bagian di dalamnya adalah investasi,” terangnya.
Oleh karena itu, Nurul Ichwan menekankan, agar ekonomi dan investasi Indonesia tumbuh dengan baik, maka jangan membanjiri masyarakat dengan informasi yang salah, fitnah, maupun hoax.
“Itu memang simple semudah menggerakkan jempol-jempol kita, tetapi risikonya sangat besar. Nah untuk Indonesia, kita harapkan hal ini tidak tetap terjadi,” terang dia.

