Anak Usaha Merdeka Battery (MBMA) Ini Raih Fasilitas Pinjaman Jumbo, Nilainya Segini
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melalui anak usahanya PT ESG New Energy material meraih fasilitas pinjaman berjangka mata uang tunggal dengan nilai US$ 490 juta dari Bangkok Bank Ltd, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Manajemen MBMA dalam penjelasan resminya di Jakarta, kemarin, menyebutkan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk membiayai keperluan perancangan, rekayasa, pembangunan, konstruksi, operasional, dan kepemilikan pabrik untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP). Dana juga digunakan untuk pengambilan bagian atas ekuitas dalam perusahaan Feed Preparation Plant (FPP).
ESG New Energy sendiri merupakan perusahaan tekendali yang mayoritas sahamnya dimiliki MBMA melalui anak usahanya PT Merdeka Industri Anantha dengan kepemilikan 55%. ESG Energy menjalankan bidang industry pembuatan logam dasar bukan besi.
Baca Juga
Merdeka Battery (MBMA) Mendadak Bangkit, Bagaimana Prospek Sahamnya?
Pinjaman yang ditandatangani pada 3 April 2024 tersebut dikenai tingkat suku bunga acuan SOFR. Sedangkan tenor pinjaman mencapai 84 bulan.
Tahun lalu, Merdeka Battery (MBMA) mencatatkan penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 68% menjadi Rp 6,92 juta pada 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 21,66 juta.
Manajemen MBMA dalam rilis kinerja keuangan menyebutkan bahwa penurunan tersebut berbanding terbalik dengan pendapatan yang justru melesat. Pendapatan perseroan melesat 191% dari US$ 455,73 juta menjadi US$ 1,32 miliar.
Baca Juga
Merdeka Battery (MBMA) Produksi Nikel 95.450 ton Sepanjang 2023
Lompatan pendapatan tersebut diikuti dengan lesatan beban pokok pendapatan dari US$ 411,33 juta menjadi US$ 1,25 miliar. Alhasil laba kotor hanya meningkat dari US$ 44,40 juta menjadi US$ 77,47 juta.
Penurunan laba juga dipengaruhi atas peningkatan pesat beban umum dan administrasi dari US$ 13,78 juta menjadi US$ 28,72 juta. Biaya keuangan turun tipis dari US$ 21,62 juta menjadi US$ 20 juta.
Hal ini membuat total laba perseroan turun dari US$ 37,84 juta menjadi US$ 33,30 juta. Laba tersebut terdiri atas laba pemilik entitas induk US$ 6,92 juta dan laba kepentingan non pengendali US$ 26,37 juta.

