Analis: Ketegangan Geopolitik Buat Investor Alihkan Aset dari Saham ke Emas
JAKARTA, investortrust.id - Analis Kiwoom Sekuritas memproyeksi bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat investor mengalihkan aset berisiko seperti saham ke safe haven, salah satunya emas. Bahkan pada pekan lalu, emas sempat mencatatkan all time high dengan menyentuh level US$2,400/troy ons.
“Kami melihat ini merupakan salah satu respons dari kejadian serangan (iran),” ujar Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Octavianus Audi kepada investortrust.id, Senin (15/4/2024).
Sementara itu, ketegangan Israel dan Iran dinilai memiliki dampak yang minim terhadap Indonesia, termasuk kepada perdagangan secara langsung. Walaupun demikian, Audi mengantisipasi efek domino yang ditimbulkan jika terjadi serangan balasan yang dapat memicu perang dunia jika ikut campurnya negara-negara koalisi.
Ia mengatakan, emiten kategori cyclical akan sensitif terhadap makro ekonomi di tengah kondisi kekhawatiran global, terlebih geopolitik. “Investor disarankan untuk wait and see terlebih dahulu dengan menantikan perkembangan geopolitik ke depannya,” jelasnya.
Baca Juga
Timur Tengah Memanas, Harga Emas Melonjak hingga Tembus $ 2.400
Sebagai catatan, Iran termasuk dalam 10 produsen minyak terbesar di dunia dengan menghasilkan minyak mentah sebanyak 3,6 juta barel per harinya. Jika terjadi aksi serangan balasan dan berlanjut jangka panjang maka kekhawatiran akan kenaikan harga minyak semakin meningkat sehingga akan mendorong inflasi kembali memanas. Secara historis, Audi mengatakan kenaikan inflasi saat ini berawal dari harga minyak mentah dunia yang menembus US$100/barrel.
“Bahkan saat ini beberapa negara pun masih belum selesai dengan permasalahan inflasi yang di luar target bank sentral. Kekhawatiran akan suku bunga bertahan pada level tinggi untuk jangka panjang sangat terbuka,” ujarnya.
Selain ketegangan geopolitik, potensi pemangkasan suku bunga Fed menurun hanya menjadi dua kali tahun ini dan di bawah ekspektasi pasar sebelumnya juga cenderung berdampak negatif pascalibur Bursa.
“Kami mengkhawatirkan dalam jangka panjang akan menggerus daya beli masyarakat sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi,” tutupnya. (CR-4)

