Melesat, Bitcoin Dipercaya Bisa Tembus US$ 48.000 Pekan Ini
JAKARTA, investortrust.id – Bitcoin (BTC) dipercaya mampu menembus level US$ 48.000 pekan ini, setelah sempat mencapai US$ 47.237 pada Senin (8/1/2024) malam. Ajaib Kripto menganalisis, Bitcoin berpotensi melanjutkan reli jika mampu bertahan di atas harga US$ 45.500.
“Namun, apabila BTC turun dari US$ 45.500, potensi penurunan menuju support US$ 44.500 serta support selanjutnya berada di level US$ 43.000,” terang Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha secara tertulis, Selasa (9/1/2024).
Hingga Selasa (9/1/2024) pukul 13.41, coinmarketcap.com menunjukkan harga saham Bitcoin terkini berada di level US$ 46.746 sehingga mencatatkan kapitalisasi pasar US$ 915,96 miliar. Panji menyebut, pertumbuhan ini turut didorong pertumbuhan pasar koin alternatif (altcoin) sepanjang 2023.
Adapun pada waktu yang sama aset kripto lainnya juga mengalami kenaikan yang sama, mengikuti lonjakan harga Bitcoin. Altcoin dimaksud, meliputi Ethereum (ETH) yang naik 5,7% menjadi US$ 2.308, Injective (INJ) naik 20% bertengger di US$ 42,4, dan Render Token (RNDR) menguat 15,4% menjadi U$ 4.
“Kenaikan itu dipicu antusias pasar terhadap keputusan ETF Bitcoin spot. Terlebih, pada Senin (7/1) pagi waktu setempat, calon penerbit ETF Bitcoin spot, termasuk BlackRock, VanEck, dan ARK Invest mengajukan amandemen terakhir perihal ETF Bitcoin spot mereka ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) sebelum diputuskan dalam waktu dekat,” papar Panji.
Baca Juga
Bitcoin Melesat ke Level US $45.000, Prospek Bitcoin 2024 Lebih Menjanjikan
SEC memiliki waktu hingga 10 Januari 2024 untuk mengambil tindakan terhadap setidaknya satu aplikasi dari 14 aplikasi ETF Bitcoin spot yang telah diajukan. Namun Panji mengungkap, tidak menutup kemungkinan bahwa SEC akan menggunakan tanggal tersebut untuk mengumumkan sejumlah keputusan sekaligus.
Terdapat dua persyaratan teknis yang harus dipenuhi sebelum ETF Bitcoin yang didukung spot dapat memulai perdagangan. Pertama, SEC harus menandatangani apa yang disebut pengajuan 19b-4 oleh bursa yang akan mencantumkan ETF. Kedua, regulator harus menyetujui formulir S-1 terkait yang merupakan permohonan pendaftaran dari calon penerbit ETF.
“Volatilitas pasar kripto akan meningkat pekan ini, jika ETF Bitcoin spot disetujui berpotensi akan mendorong harga Bitcoin dalam periode yang singkat. Namun perlu diwaspadai, kemungkinan adanya aksi profit taking dan sell on news,” ujar Panji.
Disisi lain, apabila keputusan ETF Bitcoin spot kembali ditunda atau ditolak maka potensi penurunan harga Bitcoin dapat terjadi.
Baca Juga
Jelang Peluncuran ETF Bitcoin, Ini 7 Kripto Teratas yang Harus Dibeli!
Disisi lain, AS akan merilis angka indeks harga konsumen (IHK) pada Kamis (11/1/2024), diikuti sehari kemudian oleh laporan indeks harga produsen (IHP). Investor juga mencermati petunjuk mengenai kemungkinan arah suku bunga The Fed,” jelas Panji.
IHK Desember 2023 diprediksi meningkat menjadi 3,2% (yoy), lebih tinggi dari periode sebelumnya sebesar 3,1% (yoy) periode November 2023. Sementara, IHP menurut konsensus meningkat 1,3% pada Desember 2023, lebih tinggi dari periode sebelumnya sebesar 0,9% (yoy).
“Investor juga akan mendengar pendapat beberapa pejabat Fed selama pekan ini, termasuk Presiden Fed New York John Williams dan Kepala Fed Atlanta Raphael Bostic,” menurut Panji.
Penurunan inflasi secara bertahap telah memicu spekulasi bahwa The Fed akan mulai menurunkan suku bunganya segera pada Maret 2024. Menurut FedWatch Tool CME per Senin (9/1), terdapat peluang sebesar 59,1% untuk penurunan suku bunga setidaknya 25 basis poin (bps) pada Maret 2024.
“Peristiwa rilis data ekonomi AS pekan ini kemungkinan besar tidak akan berdampak signifikan pada pasar kripto, yang hanya akan berdampak besar pada keputusan SEC terhadap aplikasi ETF Bitcoin spot,” tutup Panji. (CR-10)
Baca Juga
Dogecoin (DOGE) To The Moon di Tahun 2024? Simak Tren Harganya

