Eskalasi Timteng Tak Berdampak Langsung bagi Bursa Domestik, Saatnya Beli Saham Fundamental Bagus Ini
JAKARTA, investortrust.id - Sinarmas Sekuritas memprediksi dampak peningkatan eskalasi konflik Timur Tengah (Timteng) tidak berpengaruh secara langsung terhadap bursa saham Indonesia. Sedangkan penurunan indeks indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir dipicu faktor penurunan bursa saham AS sepanjang libur lebaran lalu.
“Tekanan jual asing pun relatif terbatas, pada perdagangan hari selasa kemarin (16/4) tercatat outflows signifikan hanya pada saham Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI),” ujar Head of Institutional Research Sinarmas Sekuritas Isfhan Helmy dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis (18/4/2024).
Baca Juga
Iran–Israel Memanas, Transaksi Bursa Komoditas Berjangka justru Naik, Kok Bisa?
Sinarmas menilai bahwa eskalasi konflik Iran-Israel hanya bisa memicu tren bearish sementara bagi IHSG. Kondisi ini bisa menjadi kesempatan bagi investor untuk mulai mengakumulasi saham emiten-emiten berfundamental bagus. Di antatanya, saham ICBP dengan target harga Rp 12.750, saham AMRT dengan target harga Rp 3,250, dan saham MYOR dengan target harga Rp 2.820.
“Sedangkan saham pilihan untuk sektor perbankan, yaitu saham BMRI (buy, TP Rp8,150, 22% potensi kenaikan) dan BBNI (buy, TP Rp6,475, 22% potensi kenaikan),” ujarnya.
Sebagai catatan, Iran telah meluncurkan lebih dari 300 drone dan rudal sebagai serangan balasan ke Israel pada akhir pekan lalu. Hal ini mendorong investor untuk memantau dengan cermat tanggapan Israel. Di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan Iran terhadap Israel, Sinarmas menilai pasar minyak bersiap menghadapi potensi volatilitas.
Baca Juga
Laba Melesat 18,3%, Harga Telkom (TLKM) Tergerus 19,64%, Kenapa?
Konflik Israel-Iran membawa konsekuensi besar, mengingat status Iran sebagai anggota pendiri OPEC dan produsen minyak yang signifikan, dengan menyumbang sekitar 3,2 juta barel per hari.
Dengan peningkatan ketegangan geopolitik yang telah mempengaruhi harga minyak, tren saat ini mengarah pada potensi risiko penurunan yang lebih tinggi, yang berpotensi mendorong harga turun menjadi $75 pada akhir tahun. Namun, Sinarmas mencermati pergerakan berkelanjutan di atas $100 per barel kemungkinan besar tidak terjadi tanpa adanya gangguan pasokan yang signifikan.

