Saham Konsumer Grup Salim (INDF) dan Wilmar (CEKA) Undervalued, Berpeluang Naik di Musim Pemilu
JAKARTA, investortrust.id – Momentum pemilihan umum (Pemilu) selalu dianggap berkolerasi kuat dengan kenaikan tingkat konsumsi, terutama kebutuhan dasar sehari-hari masyarakat.
Untuk itu, emiten yang bergerak di bisnis Fast Moving Consumer Good (FMCG) diyakini punya prospek pertumbuhan kinerja penjualan yang tinggi. Tren penjualan tinggi sektor consumer goods diperkirakan mulai berlangsung sejak masa kampanye hingga pasca Pemilu.
Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, pada musim Pemilu, ada triliunan dana logistik dari partai, tim pemenangan calon presiden maupun para calon legislatif mengucur.
Belanja logistik ini akan menggerakan ekonomi, dan berujung pada meningkatnya daya beli masyarakat, terutama masyarakat menengah-bawah. ‘’Kalau pegang uang, kalangan ini akan mengutamakan pemenuhan kebutuhan harian mereka, wajar bila ada korelasi kuat antara Pemilu dengan kinerja penjualan perusahaan FMCG,’’ urai Nafan.
Baca Juga
Teman Investor! Ini Jajaran Saham Infrastruktur yang Masih Undervalued
Terkait sentimen ini, Nafan bilang, saat musim Pemilu saham-saham konsumer yang bermain di bisnis FMCG biasanya menguat. ‘’Pemilu akan mendorong tingkat daya beli konsumsi rumah tangga. Disisi lain, kinerja perekonomian kita ditopang oleh domestic consumption. Jadi menurut saya keterkaitannya sangat erat satu sama lain,’’ papar Nafan kepada investortrust.id, belum lama ini.
Kendati begitu, Nafan mengingatkan, tidak semua saham berbasis konsumsi layak akumulasi. Faktor fundamental tetap harus menjadi perhatian pemodal, selain valuasi harga saham tentunya. Sebab kata dia sejumlah saham konsumer sudah relatif mahal, meski sebagian besar masih undervalued.
Untuk memberikan gambaran pada pemodal terkait kondisi valuasi saham-saham sektor konsumer, Tim Litbang Investortrust telah menyaring sejumlah saham yang masih tergolong undervalued dan yang sudah overvalued.
Data yang tersaji mengacu pada posisi harga saham di penutupan perdagangan pasar saham, Jumat (10/11/2023). Adapun pengukurannya dilakukan berdasarkan posisi price earning ratio (PER) maupun price to book value (PBV) masing-masing saham, dibanding saham lainnya pada sektor tersebut.
Baca Juga
Wajib Tahu! Ini 10 Saham Sektor Keuangan dengan Valuasi Termurah dan Termahal
Pada jajaran saham yang masih undervalued, saham PT Mustika Ratu Tbk (MRAT) muncul dengan valuasi paling murah, yaitu PER 2,52 kali dan PBV pada angka 0,60 kali. Kemudian Saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) dengan PER 4,63 kali dan PBV 0,67 kali di posisi kedua.
Saham PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) bisa jadi pilihan dengan PER 5,47 kali dan PBV pada level 0,69 kali. Kemudian saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga masuk dalam jajaran 10 saham dengan valuasi murah dengan PER pada level 6,31 kali dan PBV level 0,59 kali.
Sementara untuk yang sudah terbilang mahal yaitu, saham PT Indo Boga Sukses Tbk (IBOS) dengan PER 259,13 kali da PBV 8,97 kali. Disusul saham PT Pratama Abadi Nusa Industri Tbk (PANI) PER di angka 146,52 kali dan PBV 7,54 kali. Sedangkan saham PT Aman Agrindo Tbk (GULA) juga masuk top 3 termahal dengan PER 101,84 kali dan PBV di angka 4,20 kali.

