Kuasai Aset Nyaris Seribu Triliun, Kenapa Saham Barito Pacific (BRPT) masih Melempem?
JAKARTA, investortrust.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) satu-satunya emiten yang menguasai saham dua emiten berkapitalisasi pasar (market cap) top 10 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan memegang mayoritas dan mengendalikan saham emiten market cap terbesar kedua PT Barito Renewables Energy TbK (BREN) dan emiten market cap terbesar nomor tujuh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Berdasarkan data kepemilikan saham, BRPT tercatat sebagai pemegang mayoritas sebanyak 64,666% saham BREN. Nilai saham BREN yang dikuasai BRPT setara dengan Rp 696,94 triliun. Angka tersebut dihitung berdasarkan jumlah saham yang dikuasai BRPT dikalikan dengan harga saham BREN pada penutupan perdagangan kemarin.
Baca Juga
Saat Kinerja Chandra Asri (TPIA) Improve, Sekuritas Ini Utamakan Saham BRPT
BRPT juga bertindak sebagai pengendali dan pemegang saham mayoritas TPIA. Berdasarkan data registrasi pemegang saham bulanan, BRPT menguasai sebanyak 29,95 miliar atau 34,63% saham TPIA. Dengan demikian nilai saham TPIA yang dikuasai BRPT setara dengan Rp 205,21 triliun.
Dengan demikian total kekayaan anak usaha yang digenggam BRPT setara dengan Rp 902,15 triliun. Apabila dihitung dengan total saham BRPT sebanyak 93,74 miliar unit, alhasil setiap saham BRPT menguasai kekayaan dari anak-anak usahanya setara dengan Rp 9.623. Angka tersebut belum menghitung laba per saham BRPT tahun buku 2023.
Yang mengherankan, nilai kekayaan tersebut jauh di atas harga penutupan saham BRPT pada perdagangan di BEI kemarin hanya Rp 950 per saham atau harga sahamnya baru mencerminkan kurang dari 10% dari total kekayaan yang dikuasainya. Sedangkan Prajogo Pangestu bertindak sebagai penerima manfaat akhir Barito Pacific (BRPT) dengan menggenggam 71,19% saham BRPT.
Baca Juga
Laba Atribusi Barito Pacific (BRPT) Melesat 1.329%, Berikut Penopang Utamanya
Terkait prospek dan target harga saham BRPT, Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan dalam riset terakhirnya menyebutkan, potensi penguatan harga saham Barito Pacific (BRPT) kian terbuka didukung kepemilikan yang jumbo pada BREN dan TPIA.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham emiten Prajogo Pangestu (BRPT) ini dengan target harga Rp 2.500. Target hargat tersebut juga menggambarkan bahwa saham BRPT saat ini sudah terlalu murah, dibandingkan anak usahanya TPIA dan BREN. Apalagi BREN merupakan perusahaan panas bumi besar dunia dan TPIA tercatat sebagai perusahaan petrokimia besar di Indonesia.
Sucor Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih emiten Prajogo Pangestu ini menjadi US$ 69 juta tahun 2024, dibandingkan perkiraan tahun lalu US$ 48 juta. Begitu juga dengan pendapatan diharapkan naik menjadi US$ 3,03 miliar tahun ini, dibandingkan estimasi tahun lalu US$ 2,88 miliar.
Kinerja Tumbuh
Terkait kinerja keuangan, saham emitenyang dikendalikan Prajogo Pangestu (BRPT) ini juga menunjukkan performa kuat sepanjang tahun 2023. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat lebih dari 1.329% menjadi US$ 26,16 juta pada 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 1,75 juta.
Meski demikian pendapatan BRPT justru turun dari US$ 2,96 miliar menjadi US$ 2,76 miliar pada 2023. Manajemen BRPT dalam rilis laporan kinerja keuangan, Jumat (29/3/2024), menyebutkan penurunan tersebut dipicu penurunan pendapatan dari segmen bisnis petrokimia sebanyak 12,4% menjadi US$ 2,08 miliar.
Baca Juga
“Penurunan penjualan petrokima dipicu gangguang eksternal pada pasokan dan permintaan global, sehingga memicu harga jual produk ini turun,” terang Dirut BRPT Agus Pangestu dalam penjelasan resminya.
Pergerakan Saham BRPT
Sedangkan pendaptan dari segmen bisnis energi berhasil tumbuh sebanyak 16,8% menjadi US$ 666 juta. Kenaikan tersebut ditopang peningkatan produksi listrik dan uap bersamaan dengan penyesuaian tarif pembangkit listrik geothermal melalui anak usahanya Barito Renewables (BREN).
Sedangkan faktor utama penopang lompatan laba bersih datang dari penurunan dalam beban pokok pendapatan dari US$ 2,51 miliar menjadi US$ 2,20 miliar. Penurunan tersebut ditopang pelemahan harga bahan baku naptha dari rata-rata US$ 814 per ton menjadi US$ 650 per ton. Alhasil laba kotor meningkat dari US$ 445,67 juta menjadi US$ 558,14 juta.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Lanjutkan Rugi Bersih hingga Utang Membengkak
Kenaikan juga didukung atas peningkatan keuntungan lain-lain bersih dari US$ 30,62 juta menjadi US$ 134,28 juta. Peningkatan bagian laba entitas asosiasi dan ventura dari US$ 39,45 juta menjadi US$ 69,99 juta. Sebaliknya beban keuangan melesat dari US$ 202,98 juta menjadi US$ 322,17 juta.
Barito Pacific (BRPT) merupakan perusahaan energi terintegrasi dengan aset listrik dan industry. Perseroan menggarap pembangkit listrik panas bumi melalui anak usahanya Barito Renewabeles (BREN) yang mengoperasikan aset panas bumi dengan kapasitas 886 mega watt.
BRPT juga tercatat sebagai pengendali Chandra Asri (TPIA), yaitu perusaaan petrokimian terintegrasi terbesar dan satu-satunya di Indonesia. Sedangkan Prajogo Pangestu bertindak sebagai pengendali BRPT.
Kinerja Keuangan BRPT

