Serap Capex Rp 35 Triliun, Astra International (ASII) Ungkap Penggunaannya
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) menyebutkan telah menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 35 triliun hingga September 2023. Angka tersebut setara dengan 87,5% dari anggaran setahun penuh dengan total Rp 40 triliun.
“Kami sudah merealisasikan penggunaan capex sampai September 2023 cukup besar, yaitu besar capex dan investasi adalah Rp 34-35 triliun. Memang tumbuh sangat besar dibandingkan 2022,” jelas Presiden Direktur Astra International Djoni Bunarto Tjondro dalam paparan publik secara virtual, Selasa (14/11/2023).
Baca Juga
Penjualan Otomotif Diprediksi Tak Capai Target, Tapi Saham Astra (ASII) Tetap Andalan
Anggaran tersebut, sambung Djoni, digunakan untuk berbagai inisiatif perusahaan yang berkaitan dengan investasi baru. Dari grup emiten anak usaha Astra International, misalnya PT United Tractors (UNTR) ada penggunaan belanja modal untuk menggantikan atau peremajaan alat berat.
Kemudian, dari sektor agribisnis terdapat pemeliharaan fasilitas infrastruktur perkebunan. Sedangkan dari sektor otomotif ada anggaran capex yang dipakai untuk membentuk omnichannel, seperti yang dilakukan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).
“Jadi cukup besar untuk sampai dengan September ini, Rp 34-35 triliun belanja modal maupun investasi,” tegas Djoni.
Namun manajemen masih enggan menyebutkan rancangan anggaran capex tahun depan, karena menunggu tahun anggaran 2023 selesai terlaksana. “Untuk 2024, kami belum bisa sampaikan saat ini, nanti setelah rilis dari 2023, setelah selesai, baru bisa kami sampaikan,” imbuhnya.
Baca Juga
Potensi Cuan Saham Astra International (ASII) masih Besar, Segini Target Harganya
Dalam kesempatan yang sama, Djoni menegaskan bahwa seiring penggunaan capex tersebut, kinerja keuangan perusahaan juga meningkat. Astra International mencatatkan kenaikan laba bersih 10,11% (yoy) menjadi Rp 25,69 triliun sampai September 2023. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan pendapatan dari Rp 221,35 triliun menjadi Rp 240,91 triliun.
“Kinerja kami sembilan bulan pertama (2023). Dia mengalami juga peningkatan.Dan peningkatan ini terjadi di hampir seluruh portofolio bisnis kami kecuali tentunya di United Tractor yang memang ada terimbas penurunan harga batu bara dan kemudian di agribisnis,” terangnya.(CR-10)

