Saham Bank Digital Kembali Diburu Pemodal, Bank Jago (ARTO) Terfavorit
JAKARTA, investortrust.id – Pergerakan harga saham-saham bank digital kompak menguat dalam beberapa hari terakhir, seiring dengan meredanya volatilitas suku bunga sejumlah negara di dunia. Penguatan harga juga didukung valuasi saham bank digital sudah tergolong murah.
Berdasarkan data perdagangan saham sepanjang November 2023 berjalan di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Jago Tbk (ARTO) tercatat sebagai saham bank digital dengan tingkat kenaikan harga paling pesat mencapai 96,19%. Penguatan saham ini jauh di atas saham bank digital lainnya.
Disusul saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) dengan penguatan 56,25%, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) menguat 38,39%, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) naik 30,54%, dan PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) sebanyak 16,78%. Sisanya PT Bank MNCI Internasional Tbk (BABP), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), dan PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) dengan penguatan di bawah 10%.
Baca Juga
Saham Bank Digital Melesat, ARTO Cetak Rekor Tertinggi dalam 4 Bulan Terakhir
Lompatan harga tersebut menjadikan saham Bank Jago (ARTO) yang paling difavoritkan investor untuk segmen saham bank digital, karena memiliki fundamental yang paling solid dan integrasi ekosistem yang semakin dalam. Terutama kuatnya integrasi dengan ekosistem PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT BFI Finance Tbk (BFIN).
Sedangkan sepanjang pekan lalu, saham Bank Jago (ARTO) berhasil naik 34,89% ke level 3.090 atau memimpin rebound saham bank digital maupun saham perbankan secara umum. Bahkan, saham ARTO menjadi top gainers dari 28 saham bank yang menguat pekan lalu.
Selain ARTO, saham bank digital lain yang juga mencatat lonjakan pekan lalu adalah Bank Neo Commerce (BBY) naik 29,63%, Bank Raya (AGRO) menguat 18,32%, dan Bank Bumi Arta (BNBA) naik 15,97.
Lonjakan saham bank digital pekan lalu menandakan pembalikan arah di mana saham bank digital telah turun signifikan dalam 10 bulan terakhir. Di antaranya, saham Bank Neo Commerce anjlok -66,27%, Bank Jago (-57%), Bank Raya (-44%), dan Allo Bank (-32%).
Baca Juga
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis mengatakan, penurunan tersebut berlangsung di tengah tren kenaikan suku bunga, baik suku bunga Bank Indonesia maupun suku bunga The Federal Reserve.
Namun kondisi berbeda untuk saat ini, dengan prospek suku bunga yang cenderung tetap dan perbaikan kinerja, pelaku pasar menilai saham-saham bank digital mulai terdiskon.
“Secara umum kinerja bank digital on track dan sebagian besar mampu mencetak laba. Tapi secara khusus, hanya ARTO yang memiliki sentimen untuk naik karena masuk ke indeks MSCI,” ujar Azis
Sentimen Positif
Sebagaimana diketahui, saham Bank Jago diumumkan masuk ke dalam indeks MSCI Small Caps pada 14 November 2023. Inklusi saham ARTO ke indeks tersebut berlaku mulai 30 November 2023. Pada saat yang sama, BEI juga memindahkan saham ARTO dari papan pengembangan ke papan utama.
Masuknya saham ARTO ke indeks MSCI memicu lonjakan transaksi. Volume perdagangan saham Bank Jago secara kumulatif pada pekan lalu mencapai 401 juta lembar dengan nilai transaksi tercatat Rp1,13 triliun. Kinerja perdagangan tersebut mengantarkan saham Bank Jago ke daftar Stock of The Week pada pekan ini.
Baca Juga
Saham ARTO dan GOTO Kompak Melesat, Penguatan bakal Berlanjut?
Di samping itu, investor asing juga mencetak net buy atas saham Bank Jago (ARTO) senilai Rp48 miliar sepanjang pekan, menandakan optimisme pelaku pasar luar negeri terhadap saham tersebut. Azis menilai wajar saham ARTO diburu investor karena indeks MSCI menjadi acuan investor secara global.
Selain sentimen MSCI dan pindah ke Papan Utama, saham ARTO juga tersengat rumors kolaborasi Tiktok dan Tokopedia. Pelaku pasar meyakini jika kedua raksasa e-commerce tersebut menjalin kemitraan strategis, maka hanya soal waktu Tiktok bakal menjadi salah satu pemegang saham GOTO. Sebagai “Bank nya” GOTO, manuver Tiktok di Tokopedia juga berimbas positif ke ARTO.
Baca Juga
Salip-salipan Berlanjut, Market Cap BBRI Kali Ini Peringkat Dua
Sebagaimana diketahui, menurut pemberitaan Bloomberg, Tiktok dikabarkan tengah dalam tahap diskusi untuk menanamkan modal di Tokopedia. Rencana itu disebut menjadi salah satu strategi TikTok untuk memulai kembali bisnis e-commerce di Indonesia pasca pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023.

