Mirae Prediksikan IHSG 8.100, Saham Apa yang Potensi Cuan?
JAKARTA, investortrust.id – Mirae Asset Sekuritas Indonesia masih menerapkan target indeks harga saham gabungan (IHSG) 8.100 di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini. Lantas, saham apa saja yang berpotensi memberikan cuan bagi investor?
Mirae mempertahankan ekspektasi bahwa The Fed dan Bank Indonesia masih memiliki peluang menurunkan suku bunga menuju semester II-2024, mengingat tingkat inflasi masih terkendali.
Secara teknis, tim riset Mirae Asset melihat bahwa reli pada IHSG, yang telah berlangsung sejak awal November, memerlukan konsolidasi yang sehat agar dapat mempertahankan keuntungan jangka panjang yang lebih lanjut.
“Oleh karena itu, kami mempertahankan target JCI (IHSG) kami pada 8.100 untuk tahun ini. Target JCI kami mengimplikasikan rasio P/E sekitar 14-15x dengan pertumbuhan EPS sekitar 5-6% YoY dari EPS T12M saat ini,” tulis Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Hardy dalam riset yang dipublikasi pada Jumat (5/1/2024).
Mirae Asset pun memfokuskan pemilihan saham pada beberapa sektor dan perusahaan yang diyakini masih memiliki neraca solid dan prospek kinerja operasional. Hal ini demi menahan potensi hambatan sepanjang semester I-2024 termasuk.
“Untuk saham perbankan BBCA dan BBRI, konsumen primer HOKI dan AMRT, konsumen non-primer ACES dan MAPI, telekomunikasi TLKM dan ISAT, dan industri ASII,” sambung Robertus.
Mirae Asset memperkirakan, investor domestik akan terus mendukung ketahanan IHSG ke depan. Sepanjang 2023, dana asing keluar dari pasar saham domestik mencapai Rp 6 triliun sedangkan tahun sebelumnya mencatatkan dana masuk Rp 61 triliun.
Nilai transaksi harian rata-rata di pasar reguler turun 27% (yoy) menjadi hanya Rp 9 triliun dari Rp 12 triliun pada 2022.
“Meski begitu, kami melihat bahwa ketahanan kinerja IHSG tetap berlanjut meski terjadi arus keluar modal. Ini menunjukkan bahwa ke depannya, kekuatan terus menerus dari investor domestik diharapkan akan mendukung indeks, berpotensi menghasilkan kinerja yang lebih positif,” papar Robertus.
Dia menilai, ukuran pasar Indonesia yang lebih kecil dibandingkan pesaing regional dapat dianggap sebagai peluang pertumbuhan eksponensial. Secara total, lima perusahaan yang terdaftar secara publik dengan kapitalisasi pasar terbesar IHSG hanya bernilai US$ 273 miliar.
Jumlah tersebut, lebih kecil dibandingkan Korea Selatan, Jepang, dan India, yang masing-masing mencapai US$ 628 miliar, US$ 672 miliar, dan US$ 691 miliar.
Di satu sisi, hal tersebut bisa dianggap sebagai pertimbangan bagi investor asing yang masih lebih memilih berinvestasi di bursa saham beberapa negara Asia lain dengan ukuran yang lebih besar.
“Namun, di sisi lain, ini juga bisa dianggap sebagai peluang bagi investor asing untuk menjadi pelaku awal di pasar yang menjanjikan dengan potensi pertumbuhan eksponensial dalam jangka panjang dibandingkan negara-negara yang lebih maju,” pungkasnya.
Baca Juga

