Pemerintah Tarik Investasi ke IKN dan Properti, Lalu Sektor Apa yang Diunggulkan Mirae Sekuritas? Intip Alasannya!
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah bertekad menarik investasi besar-besaran ke megaproyek Ibu Kota Negara baru Nusantara (IKN) sebelum Pemerintahan Presiden Joko Widodo periode kedua berakhir Oktober 2024. Di tengah bergegasnya pemerintahan sekarang menyelesaikan proyek-proyek yang sudah dicanangkan, sektor-sektor apa saja yang dicermati perusahaan sekuritas papan atas seperti Mirae Asset Sekuritas?
Namun, sebelum sampai ke paparan analisa Mirae Asset Sekuritas, penjelasan Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Riyatno kita simak lebih dulu.
“Sudah ada investor Singapura dan Malaysia yang tertarik berinvestasi ke IKN, juga banyak dari Tiongkok, dan kami juga memfasilitasi untuk site visit langsung ke IKN (di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur). Ini supaya lebih meyakinkan. Investasinya tahap pertama lebih ke properti dan pendukungnya, dikaitkan dengan IKN yang akan jadi ibu kota baru yang ramah lingkungan. Dalam pertemuan terbaru juga dibicarakan terkait kepemilikan asing yang lebih kondusif, membuat peluang calon investor asing lebih terbuka, supaya asing tertarik masuk ke dunia properti kita,” kata Riyatno dalam diskusi Road to Asean Summit 2023 dengan tema “Peluang Investasi melalui KTT ke-43 Asean”, Jakarta, Selasa 15 Agustus 2023.
Ia menjelaskan, IKN yang akan mengadopsi konsep kota pintar (smart city) yang ramah lingkungan dan berbasis alam ini tentu saja menggunakan tenaga listrik yang ramah lingkungan atau green energy. Kota ini juga dilengkapi sistem transportasi berbasis listrik. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan sudah mengarahkan bahwa 80 persen transportasi di IKN adalah angkutan umum berbasis hijau seperti electric bus.
“Kementerian Investasi/BKPM juga ditugasi untuk menangani rencana Asean forum exhibition, salah satunya dari IKN. Ini supaya secara langsung bisa komunikasi dengan para pelaku usaha dari Asean (terkait rangkaian KTT ke-43 Asean pada 5-7 September 2023),” papar Riyatno.
Merujuk data resmi Portal Informasi Indonesia, kebutuhan investasi untuk pembangunan IKN sampai 2024 mencapai sekitar Rp 466- 486 triliun. Jika diperinci, angka tersebut diperkirakan terbagi atas investasi pemerintah dari APBN sekitar Rp 88,54 triliun sampai Rp 92,34 triliun (19%), serta investasi pelaku usaha sekitar Rp 377,46 triliun sampai Rp 393,66 triliun (81%).
Sektor Semen, Otomotif, Telko
Pada kesempatan terpisah di hari yang sama, diskusi yang digelar PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi tiga sektor akan tumbuh mengesankan tahun ini. Sektor semen, otomotif, dan telekomunikasi akan menjadi pendorong pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, bahkan dapat melampaui prediksi sebelumnya mengenai pertumbuhan indeks hingga akhir tahun ini.
“Sektor semen, otomotif, dan telekomunikasi akan mendorong IHSG ke 7.600 hingga akhir tahun (dari posisi 15 Agustus 2023 di level 6.915),” kata Head of Research Team & Strategist Mirae Asset Robertus Hardy di Jakarta, Selasa (15/08/2023).
Robertus mengatakan, ketiga sektor beserta mayoritas perusahaan yang menjadi anggotanya (konstituen) juga diuntungkan dari naiknya tingkat mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat pascapandemi tahun lalu. Dengan dorongan dari ketiga sektor pilihan itu, Tim Riset Mirae Asset memprediksi IHSG dapat menguat hingga 7.600 pada semester II-2023.
“Ketiga sektor memiliki potensi return yang lebih tinggi dari IHSG, yang saat ini langkahnya masih terbebani sektor komoditas. Kalau pandangan kami, mobilitas masyarakat utamanya akan mendorong pembelian mobil dan motor,” ujar Robertus dalam acara Media Day tersebut.
Menurut dia, faktor lebih sedikitnya hari libur juga diyakini akan menaikkan volume penjualan semen. Demikian pula sektor telekomunikasi akan diuntungkan dengan semakin meluasnya ekspansi jaringan fixed broadband.
Dalam diskusi bertema Beyond IHSG: Unleash the Investment Power itu, dia mengatakan perusahaan-perusahaan di sektor otomotif dan industri pendukungnya akan mengalami pertumbuhan yang signifikan tahun ini. Khusus motor, penjualan unit tahun ini diprediksi tumbuh lebih dari 30% dan diyakini akan tercapai, mengingat pertumbuhan di semester I-2023 mencapai 42,5% dibanding paruh pertama tahun lalu (YoY).
Di sektor telekomunikasi, lanjut Robertus, belanja komunikasi masyarakat diprediksi masih akan tumbuh, meskipun tingkat pemakaian ponsel pintar di Indonesia sudah cukup tinggi. Potensi pertumbuhannya diprediksi masih cukup besar, terutama karena operator telekomunikasi sedang menggodok konvergensi layanan fixed broadband dengan mobile data (Fixed Mobile Convergence/FMC).
Di sektor semen, dia menilai bahwa semakin pulihnya tingkat konsumsi masyarakat masih akan mendorong pertumbuhan sektor pendukung infrastruktur tersebut, ditambah dengan faktor turunnya harga komoditas dapat menguntungkan beberapa produsen bahan bangunan itu.
Untuk ketiga sektor tersebut, Robertus yang juga merangkap Strategist Mirae Asset, mengatakan tiga sektor tersebut memiliki saham pilihannya sendiri. “Untuk pilihannya yaitu TLKM (trading buy, target price Rp 5.100 untuk 12 bulan ke depan), ASII (buy, TP Rp 7.500), dan INTP (buy, TP Rp 12.875). Lima saham lain yang masuk top picks Agustus adalah AKRA, ERAA, EXCL, MPMX, dan PRDA,” imbuhnya.
CEO PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Tae Yong Shim (tengah) bersama pembicara Media Day dan Kontributor FIMA. (Foto: Mirae)
Demokratisasi Investasi
Head of Business Innovation Mirae Asset Wisnu Aditya mengatakan, dengan informasi yang telah diberikan, diharapkan investor menjadi lebih yakin dalam berinvestasi di pasar modal Indonesia. Informasi ini merupakan bagian dari misi Mirae Asset untuk mendemokratisasi investasi, untuk memungkinkan seluruh lapisan masyarakat dapat berinvestasi dengan mudah di pasar modal.
“Tidak hanya riset, tetapi juga rekomendasi saham dari para ahli, data ekonomi, analisa teknikal, fundamental stock screener, berita, forum, media center, dan saham pilihan juga ada, ada one stop solution untuk investor dan trader pasar modal Indonesia seperti FIMA,” ujar Wisnu.
Wisnu juga mengajak institusi dan individu pelaku pasar pasar modal untuk berkolaborasi dan memberikan sumbangsih dalam mendukung kemajuan pasar modal Indonesia.
Ia menjelaskan, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia tergabung ke dalam salah satu kelompok usaha jasa keuangan nonbank global yaitu Mirae Asset Financial Group, yang memiliki dana kelolaan sekitar US$ 550 miliar (setara Rp 8.000 triliun) pada akhir tahun lalu. Perusahaan merupakan salah satu perusahaan efek terbesar dan terbaik di Indonesia dan menjadi anggota bursa teraktif di pasar saham. Alasannya, nilai, volume, dan frekuensi perdagangan saham serta efek ekuitas nasabah perusahaan merupakan salah satu yang terbesar pada periode 2020, 2021, dan 2022.
“Nilai modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) juga menunjukkan sehatnya operasional perusahaan dan menjadi salah satu yang terbesar. MKBD Mirae Asset masih stabil di kisaran angka Rp 1,3 triliun dalam 6 bulan terakhir dan Rp 1,4 triliun dalam setahun terakhir. Angka tersebut jauh di atas ketentuan minimal yang ditetapkan oleh peraturan dan perundang-undangan untuk perusahaan efek, yaitu Rp 25 miliar, beserta ketentuan lain,” kata Head of Corporate Secretary PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Ivonne Kaharu.

