Rally Saham BBTN Berlanjut, Target Harganya Ternyata masih Menggiurkan
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) berhasil menorehkan penguatan sebanyak 6,96% menjadi 1.460 sepanjang pekan lalu. Penguatan tersebut melanjutkan rally saham bank pelat merah ini dalam dua pekan terakhir usai rilis laporan keuangan 2023.
Penguatan harga saham BBTN berbanding terbalik dengan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru turun -0,50% dan indeks LQ45 yang melemah -1,24% pekan lalu. Selain itu, pergerakan saham BBTN juga outperformed terhadap peers emiten sektor keuangan (IDX Finance) yang juga turun -0,68%.
Penguatan harga saham BBTN juga diikuti dengan lonjakan aktivitas perdagangan. Volume perdagangan saham, transaksi, dan frekuensi rata-rata BBTN pekan lalu naik lebih dari 25%, dibandingkan pekan sebelumnya.
Baca Juga
Volume, nilai transaksi, dan frekuensi rata-rata mingguan pada pekan lalu kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang tahun berjalan. Volume perdagangan rata-rata mencapai 90,69 juta saham; nilai transaksi rata-rata tercatat Rp131 miliar dan frekuensi rata-rata sebesar 8.360 transaksi.
Menariknya, peningkatan transaksi dan rally saham BBTN dalam dua pekan terakhir disertai akumulasi investor asing. Net Buy atas saham BTN sebesar Rp 37,5 miliar. Secara kumulatif sejak awal tahun (year to date), pemodal asing telah mengakumilasi sebanyak Rp 216 miliar saham BBTN. Sementara itu, harga saham telah menguat 17% pada kurun waktu yang sama.
Apresiasi pelaku pasar terhadap saham BBTN didukung kinerja keuangan tahun 2023 hingga melampaui ekspektasi. BBTN juga dinilai berhasil menyelesaikan kredit bermasalah dan di saat yang sama meningkatkan kredit berkualitas tinggi dengan tetap menjaga struktur biaya dana. Langkah perseroan yang memperbesar segmen kredit komersial, yakni pembiayaan rumah di atas Rp 1 miliar juga dinilai telah membuahkan hasil.
Prospek Saham
Harga saham BBTN diperkirakan bakal terus melanjutkan penguatan dan memiliki prospek menjanjikan untuk jangka menengah panjang. Maka itu, investor memanfaatkan momentum untuk akumulasi karena valuasi BBTN saat ini dianggap terlampau murah dengan price to book value (PBV) rasio sebesar 0,67x. Bandingkan dengan BBRI, BMRI dan BBNI dengan PBV rasio masing masing sebesar 2,98x, 2,52x dan 1,47x.
“Estimasi CAGR laba BTN di atas industri didukung sejumlah faktor, seperti pertumbuhan kredit diperkirakan berada di atas 10% per tahun dalam lima tahun mendatang, khususnya kredit konsumer dengan yield tinggi, seperti KPR non subsidi,” tulis analis Sucor Sekuritas Edward Lowis dalam riset pekan lalu, tentang prospek saham BBTN ke depan.
Proyeksi rata-rata pertumbuhan tahunan laba yang kuat, terang dia, juga didukung perkiraan NIM perseroan yang pulih sejalan dengan peningkatan yield kredit dari segmen komersil.
Baca Juga
Di Atas Rata-rata Industri, Pertumbuhan Kredit BTN (BBTN) Capai 11,9% di 2023
Dengan potensi pertumbuhan pesat tersebut, Edward Lowis mengatakan, prospek saham BBTN kian menggiurkan. Hal ini mendorong Sucor Sekuritas merevisi naik target harga saham BBTN menjadi Rp 1,755. Target baru tersebut menggambarkan perkiraan PBV tahun ini sekitar 0,7 kali, dibandingkan transaksi saham BBTN saat ini level 0,6 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan perkiraan ROE sekitar 13%.
Target harga tersebut mempertimbangkan proyeksi kenaikan laba bersih BTN menajdi Rp 3,92 triliun tahun 2024 dan diharapkan melesat menjadi Rp 4,37 triliun tahun 2025. Sedangkan pendapatan bunga bersih diprediksi meningkat menjadi Rp 14,55 triliun tahun 2024 dan kembali meningkat menjaadi Rp 16,34 triliun pada 2025.
Sementara itu, analis Panin Sekuritas Nico Laurens mengatakan, outlook pertumbuhan kinerja keuangan BTN terbuka lebar ke depan didukung sejumlah faktor. Antara lain, ekspansi yang gencar ke segmen kredit high yield untuk menjaga pertumbuhan laba perseroan, peningkatan komposisi dana murah, dan perbaikan kualitas kredit.
BTN diperkirakan mampu mempertahankan pertumbuhan kredit di atas 10% dengan peningkatan penetrasi ke segmen kredit dengan yield tinggi. Berdasarkan data tahun 2023, perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yield tinggi sebanyak 28,2%.
“Perseroan juga diuntungkan atas tren peningkatan komposisi dana murah. Berdasarkan data rasio CASA perseroan meningkat menjadi 61,7% hingga akhir 2023, dibandingkan akhir 2022 sebesar 57,3%,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan, beberapa hari lalu.
Baca Juga
Saham BBTN dari Berlanjutnya Kenaikan Harga hingga Diburu Investor Asing
Menurut dia, peningkatan dana murah perseroan ditopang performa BTN Mobile yang ditunjukkan lompatan nilai transaksi menjadi Rp 57,5 triliun tahun lalu dengan jumlah pengguna baru mencapai 1,1 juta. Peningkatan CASA juga didukung e-deposito dengan bunga dan biaya overhead lebih rendah.
Selain itu, Panin Sekuritas menyebutkan, BTN menunjukkan tren penurunan rasio NPL didorong penjualan aset-aset bermasalah. Tahun 2024, NPL gross perseroan diperkirakan turun di bawah 3%. Angka tersebut optimistis tercapai, sejalan dengan target penjualan aset bermasalah senilai Rp 1 triliun sepanjang 2024.
Sejumlah faktor tersebut mendorong Panin Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 1.500. Sedangkan katalis positif saham ini datang dari pemangkasan suku bunga dengan perkiraan 50-75 bps tahun 2024.

