Tancap Gas di Bisnis Non-Taxi, Intip Target Harga Saham Terbaru Blue Bird (BIRD)
JAKARTA, investortrust.id – PT Blue Bird Tbk (BIRD) terus berupaya mensiasati tarif royalti sebesar 2% yang dikenakan pada revenue perseroan sejak November 2023.
Salah satu langkah yang dilakukan yaitu menggenjot pendapatan dari lini bisnis non-taxi. Strategi revenue mix dinilai merupakan bantalan untuk mempertahankan posisi marjin Perseroan khususnya non-taxi dari Cititrans.
“Kami melihat biaya royalti yang dibebankan sebesar 2% sebagai katalis negatif bagi BIRD, namun kami melihat strategi dari manajemen untuk memperbesar porsi segmen non-taxi nya merupakan Langkah yang baik,” urai Analis PT Panin Sekuritas, Andhika Audrey, dalam riset terbaru yang dikutip, Senin (18/3).
Baca Juga
Sambut Bulan Ramadan, Bukit Asam (PTBA) Salurkan 10.000 Paket Sembako
Diketahui, Cititrans berencana memperpanjang trayek dengan meluncurkan armada bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), manajemen telah mempersiapkan 10 unit armada bus dengan perkiraan chasis premium HINO RM 380, yang rencananya launching menyambut arus mudik 2024.
Sementara itu, manajemen tengah mempersiapkan ekspansi beberapa rute untuk Bus Rapid Transit (BRT) Bandung yang sebelumnya bekerja sama dengan Big Bird.
Selain itu Perseroan berpotensi untuk mendapatkan tender kontrak kerja sama pengadaan BRT di dua Provinsi lainnya tahun ini yakni Jawa Timur dan Sumatera Utara.
“Kami memandang positif atas kerja sama ini, karena Perseroan akan memperoleh pendapatan yang sifatnya fix income dengan kontrak yang relatif panjang (3-5 tahun),” urainya.
Baca Juga
Pertumbuhan Diprediksi Berlanjut, Begini Prospek Saham Blue Bird (BIRD)
Langkah menggenjot pendapatan dari segmen non-taxi terlihat dari alokasi belanja modal Perseroan, yang berimbang. Sebagai catatan, tahun ini Perseroan mengalokasikan anggaran capex sebesar Rp 2,4 triliun yang akan digunakan perawatan armada dan peremajaan armada, di mana target Perseroan menambah 3.000 armada dengan porsi masing – masing segmen (taksi & non-taksi) sebesar 50%.
Golden Bird sendiri memiliki sekitar 6.000 armada saat ini yang memiliki potensi pertumbuhan lebih besar, serta kontribusinya akan semakin meningkat. Rencananya Golden Bird akan melayani transaksi on-demand yang mekanismenya sama dengan ride hailing, namun memiliki kelas armada premium, tujuan Perseroan adalah untuk memakan pangsa pasar ride hailing premium yang sudah ada (Gocar Lux & Grab +) dengan harga lebih kompetitif.
Adapun terkait strategi BIRD menghadapi festive season tahun ini, Panin Sekuritas mengestimasi pada kuartal I-2024 masih akan tetap rendah dan secara perlahan membaik mulai semedster I-2024, karena adanya budaya urbanisasi pasca lebaran yang menyebabkan tingginya permintaan Perseroan.
Target Kinerja dan Rekomendasi Saham
Ekspansi yang dilakukan merupakan upaya BIRD untuk memacu pendapatan, dengan target pertumbuhan double digit pada tahun 2024. Meski begitu Panin Sekuritas meramal posisi bottom line 2024 akan menurun dibanding 2023.
Adapun dari sisi utilisasi armada ditargetkan di level 83% pada 2024 (Taksi Reguler) dan 90% (Taksi Eksekutif).
Mencermati berbegai sentiment tadi, Andhika Audrey tetap memberikan rating buy untuk saham BIRD dengan target price Rp 2.200 atau punya potensi penguatan hingga 25% dari harga saham BIRD saat ini.
“Walaupun secara seasonality kinerja BIRD relatif rendah pada semester I, namun kami melihat masih terdapat pertumbuhan khususnya dari beberapa inisiatif yang dilakukan manajemen untuk memperlebar porsi pendapatan non-taksi serta komitmen BIRD terhadap sustainability lingkungan maupun masyarakat dengan berinvestasi kepada jaringan transportasi listrik hingga transportasi umum,” urainya.
Kendati begitu, Andhika Audrey melihat beberapa resiko yang berpotensi membuat tidak tercapainya target tersebut, diantaranya, rendahnya daya beli masyarakat serta melonjaknya hutang perseroan akibat dari pembiayaan (~70% loans) untuk Capex 2024.
“Kami masih merekomendasikan buy namun dengan penyesuaian target harga menjadi Rp 2.200 (implied EV/EBITDA 5,95x di 2024F) setara dengan -0,5x std.dev EV/EBITDA 5 tahun terakhir,” pungkasnya.

