Pemerintah Siapkan Stimulus Rp 31 Triliun untuk Dongkrak Ekonomi Akhir Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah menyiapkan serangkaian stimulus senilai sekitar Rp 31 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi pada akhir 2026. Stimulus tersebut mencakup bantuan sosial (bansos), Bantuan Subsidi Upah (BSU), hingga diskon tiket transportasi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah akan terus mengoptimalkan berbagai kebijakan untuk mempertahankan konsumsi masyarakat sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
"Yang pertama terus kita melanjutkan mempertahankan konsumsi dengan stimulus yang dikoordinasikan nilainya sekitar Rp 31 triliun. Ini diharapkan daya beli masyarakat bisa terus terjaga," kata Airlangga dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Adapun stimulus tersebut antara lain berupa bantuan pangan beras sebanyak 10 kilogram bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat. Pemerintah juga menyalurkan BSU sebesar Rp 900.000 kepada 13,3 juta pekerja dengan gaji maksimal Rp 3,5 juta atau di bawah upah minimum provinsi (UMP).
Selain bantuan sosial, pemerintah memberikan insentif transportasi untuk mendukung mobilitas masyarakat selama periode libur akhir tahun. Insentif tersebut meliputi Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100% untuk tiket pesawat ekonomi domestik dengan target 3,75 juta penumpang. Kebijakan ini berlaku untuk periode perjalanan 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027.
Pemerintah juga memberikan diskon tiket kereta api sebesar 30% dengan target 1,04 juta penumpang untuk periode 22 Desember 2026 hingga 4 Januari 2027.
Sementara itu, tiket kapal laut PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) mendapatkan insentif dengan target 414.000 penumpang untuk periode 17 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027. Adapun tarif jasa kepelabuhanan digratiskan di 14 pelabuhan dengan target penerima manfaat sebanyak 1,42 juta orang selama periode 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027.
Airlangga menjelaskan, stimulus konsumsi tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2026. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi secara kumulatif sepanjang 2026 atau year-to-date (ytd) tetap berada di kisaran 5,4%.
"Untuk kuartal IV, pemerintah tetap menargetkan secara year-to-date 5,4%. Jadi, kira-kira targetnya hampir sama dengan apa yang dicapai di kuartal III," ujarnya.
Menurut Airlangga, belanja pemerintah pada kuartal II dan III turut memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi. Konsumsi pemerintah pada triwulan III 2026 tercatat tumbuh 8,95% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66%.
Pemerintah juga mengandalkan peningkatan investasi dan ekspor untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi hingga penghujung tahun. Dari sisi perdagangan, pemerintah tengah mengevaluasi sejumlah regulasi yang dinilai menghambat kegiatan ekspor.
Di sisi lain, pemerintah memastikan gejolak harga energi global masih dapat dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Airlangga menyebut harga pembelian energi Indonesia berada di kisaran US$ 93 per barel atau masih di bawah US$ 100 per barel.
"Dengan situasi harga energi seperti sekarang, relatif kejutan energi itu terserap oleh APBN," katanya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% pada triwulan III/2026 secara tahunan. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Januari–September 2026 mencapai 5,45%.
Capaian tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,04%, sementara investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 6,06%. Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan porsi 51,77%.
