Pertamina Geothermal (PGEO) Kebut Kapasitas 1 GW pada 2028, Siapkan 12 Proyek Panas Bumi
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mempercepat ekspansi bisnis panas bumi untuk mengejar target kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) pada 2028. Sebanyak 12 proyek dengan total kapasitas mencapai 320 megawatt (MW) menjadi prioritas, termasuk mempercepat jadwal pengerjaan lima proyek.
Berbagai strategi disiapkan PGEO untuk mencapai target tersebut, mulai dari membuka potensi kapasitas baru, mengoptimalkan aset panas bumi yang telah beroperasi, hingga mengintensifkan kegiatan pengeboran di sejumlah wilayah kerja.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Pertamina Geothermal Energy Edwil Suzandi mengatakan, pengembangan kapasitas baru harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga produksi dan ketersediaan pasokan uap dari aset eksisting. “Bagi PGE, menjaga produksi dan ketersediaan pasokan uap sama pentingnya dengan mengembangkan kapasitas baru,” tandas Edwil, dikutip Kamis (5/11/2026).
Baca Juga
Laba PGE (PGEO) Naik 21,45%, Produksi Panas Bumi Cetak Rekor
Dalam menjalankan strategi ekspansi, PGEO tengah mengembangkan sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), antara lain PLTP Hululais Unit 1 dan 2, PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4, serta PLTP Lahendong Unit 7 dan 8. Dari sejumlah proyek tersebut, PLTP Hululais telah mengantongi perjanjian jual beli uap (steam sales contract/SSC). Proyek ini dipersiapkan memasuki tahap engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC), dengan target beroperasi secara komersial pada 2028.
Sementara itu, PLTP Lumut Balai Unit 3 telah memiliki perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dan menyelesaikan pengeboran dua sumur. Proyek tersebut juga telah memulai proses front end engineering design (FEED), dengan target operasi komersial pada 2030.
Untuk mengejar target kapasitas 1 GW pada 2028, PGEO memprioritaskan 12 proyek dengan total kapasitas 320 MW. Sebanyak lima proyek dengan kapasitas gabungan 105 MW bahkan dipercepat dari jadwal semula yang direncanakan beroperasi setelah 2028.
Saat ini, PGEO mengelola kapasitas terpasang secara mandiri (own operation) sebesar 727 MW. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 1 GW pada 2028 dan mencapai 1,8 GW pada 2033.
Pencapaian target jangka panjang tersebut akan ditopang pengembangan organik, anorganik, serta percepatan penyelesaian proyek. Perseroan juga mengoptimalkan aset eksisting, memperluas kapasitas pembangkit, dan mengembangkan sumber pendapatan baru.
Ditopang Pertumbuhan Laba
Ambisi ekspansi Pertamina Geothermal Energy (PGEO) didukung kinerja keuangan yang positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Mengacu pada laporan keuangan per 30 September 2026, PGEO membukukan laba bersih sebesar US$ 126,62 juta atau tumbuh 21,45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Pertumbuhan laba bersih tersebut melampaui kenaikan pendapatan perseroan yang tercatat sebesar 10,46% yoy. Sementara itu, EBITDA meningkat 15,58% yoy menjadi US$287,77 juta. Dari sisi likuiditas, PGEO memiliki kas dan setara kas sebesar US$713,68 juta pada akhir September 2026. Perseroan juga berhasil menurunkan total liabilitas sebesar 3,37% menjadi US$955,55 juta.
Baca Juga
PGE (PGEO) Dorong Panas Bumi untuk Pasok 'Green Data Center' dan AI
Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengatakan pencapaian tersebut mencerminkan konsistensi penerapan strategi bisnis perseroan yang efektif dan efisien.
Menurut dia, pengembangan proyek panas bumi membutuhkan investasi jangka panjang dengan periode pengerjaan beberapa tahun. Karena itu, pertumbuhan bisnis tidak hanya diukur dari penambahan kapasitas, tetapi juga kemampuan menjaga profitabilitas dan kesehatan keuangan selama proses pengembangan.
“Proyek panas bumi PGE adalah proyek jangka panjang yang berjalan multi-years. Karena itu, pertumbuhan tidak hanya diukur dari penambahan kapasitas, tetapi juga dari kemampuan perseroan menjaga profitabilitas dan kesehatan keuangan di setiap tahap pengembangan,” tegas Frans.
Cetak Rekor
Selain pertumbuhan keuangan, kinerja operasional PGEO juga menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang Januari-September 2026, perseroan mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) dari wilayah kerja yang dikelola secara mandiri.
Realisasi tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) PGEO untuk periode sembilan bulan. Produksi listrik tersebut mencapai 108,22% dari target sebesar 3.801 GWh. Dibandingkan periode Januari-September 2025 yang mencapai 3.747 GWh, produksi listrik PGEO meningkat sekitar 9,86%.
Edwil mengatakan pencapaian tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga keunggulan operasional (operational excellence) sekaligus mengoptimalkan aset panas bumi yang dikelola. “Capaian ini mencerminkan konsistensi PGE menjaga operational excellence sekaligus mengoptimalkan aset panas bumi yang dikelola,” tegas Edwil.
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Ahmad Yani, menambahkan perseroan terus memperkuat perannya dalam pengembangan energi panas bumi Indonesia yang telah memasuki usia satu abad.
Baca Juga
DPR Restui Langkah Danantara Jadi 'Induk' Pengayom Industri Tekstil Nasional
Berawal dari penemuan potensi panas bumi pada 1926 di Kamojang, Jawa Barat, wilayah tersebut kini berkembang menjadi salah satu pusat pengembangan energi panas bumi nasional.
Yani memaknai momentum satu abad pengembangan panas bumi sebagai komitmen bahwa energi bersih dan kinerja bisnis yang solid dapat berjalan beriringan.
