Laba PGE (PGEO) Naik 21,45%, Produksi Panas Bumi Cetak Rekor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE kembali mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif hingga kuartal III-2026. Didukung keandalan operasional dan optimalisasi aset panas bumi, perseroan membukukan laba bersih US$ 126,62 juta sepanjang Januari–September 2026 atau tumbuh 21,45% secara tahunan (yoy).
Capaian tersebut turut didukung pertumbuhan pendapatan sebesar 10,46% (yoy) menjadi US$ 352,20 juta. Pertumbuhan ini didukung peningkatan produksi listrik panas bumi yang kembali mencetak rekor tertinggi.
Menurut Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Fransetya Hasudungan Hutabarat, raihan tersebut sekaligus mencerminkan kemampuan perseroan dalam menjaga profitabilitas, melalui pengelolaan operasional yang efektif dan efisien.
Baca Juga
PGE (PGEO) Dorong Panas Bumi untuk Pasok 'Green Data Center' dan AI
“Pertumbuhan laba bersih yang melampaui pertumbuhan pendapatan ini mencerminkan semakin kuatnya profitabilitas perusahaan. Kinerja ini didukung oleh peningkatan produksi, optimalisasi pendapatan, serta disiplin pengelolaan biaya yang terus kami jalankan,” ujar Fransetya pada Kamis (29/10/2026).
Dia menambahkan, fundamental keuangan yang solid menjadi modal penting bagi perseroan untuk menjaga kesinambungan bisnis, sekaligus mendukung pengembangan kapasitas panas bumi ke depan. Peningkatan profitabilitas juga tercermin dari laba usaha perseroan yang tumbuh 17,44% (yoy) menjadi US$ 186,26 juta. Sementara itu, margin laba bersih emiten pelat merah ini meningkat dari 32,7% menjadi 35,95%. “Ini menunjukkan kemampuan PGE dalam mengonversi pertumbuhan pendapatan menjadi keuntungan yang lebih optimal,” sambung Fransetya.
Dari sisi posisi keuangan, PGE mencatatkan penurunan total liabilitas menjadi US$ 955,55 juta per 30 September 2026, dari US$ 988,89 juta pada akhir 2025. Sementara itu, kas dan setara kas perseroan tercatat sebesar US$ 713,68 juta. Angka ini dipercaya memberi fleksibilitas finansial bagi perseroan dalam mendukung kebutuhan operasional, sekaligus merealisasikan rencana pengembangan bisnis ke depan.
Operasional Topang Kinerja
Kinerja keuangan Pertamina Geothermal sejalan dengan pencapaian produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri (own operation) sepanjang Januari–September 2026. Produksi ini meningkat 9,79% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus mencetak rekor produksi tertinggi (all time high) dan mencapai 108,22% dari target 3.801 GWh.
Direktur Operasi Pertamina Geothermal Energy, Andi Joko Nugroho menjelaskan, capaian tersebut merupakan hasil penerapan operational excellence secara konsisten melalui pengelolaan reservoir, pemeliharaan pembangkit, dan optimalisasi produksi.
“Rekor produksi ini merupakan hasil disiplin operasional dalam menjaga kesiapan pasokan uap, keandalan pembangkit, dan efektivitas pemeliharaan. Kami terus mengoptimalkan kinerja setiap aset panas bumi, melalui pengelolaan reservoir yang disiplin dan pemeliharaan pembangkit yang terencana,” tandas Andi.
Baca Juga
Keandalan operasional pembangkit PGE tercermin dari capaian equivalent availability factor (EAF) sebesar 98,51%, melampaui target 92,2%. Capaian ini menunjukkan tingginya tingkat ketersediaan pembangkit untuk mendukung pasokan listrik panas bumi.
Selain itu, equivalent forced outage rate (EFOR) tercatat sebesar 0,21% yang menunjukkan rendahnya tingkat gangguan paksa ekuivalen selama periode pelaporan. Capaian ini mencerminkan efektivitas pengelolaan operasional PGE dalam mengendalikan gangguan, menjaga keandalan pembangkit, serta mendukung kontinuitas pasokan listrik panas bumi secara berkelanjutan.
Ke depan, PGE berencana mempercepat pengembangan sejumlah proyek strategis, termasuk Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8. Perseroan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034.
