Karyawan Jadi Celah Peretasan Bursa Kripto, CEO FLOQ Ingatkan Ancaman Malware
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Serangan siber terhadap platform perdagangan aset kripto tidak selalu menargetkan sistem teknologi secara langsung. Faktor manusia, terutama karyawan yang memiliki akses terhadap sistem internal perusahaan, justru dapat menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan peretas.
Founder dan CEO FLOQ Yudhono Rawis mengatakan, insiden peretasan yang melibatkan sejumlah exchange global memperlihatkan bahwa karyawan dapat menjadi pintu masuk bagi serangan siber.
Dia mencontohkan insiden yang melibatkan Binance. Dalam kasus tersebut, menurut penjelasannya, salah satu karyawan menjadi sasaran peretasan setelah menginstal aplikasi yang ternyata mengandung malware.
"Yang di-hack itu orangnya, orang yang bekerja di Binance. Tim member-nya itu di-hack karena dia instal sesuatu, sayangnya di situ ada malware," ujar Yudhono dalam Podcast Konvergensi bersama Investortrust, Rabu (4/11/2026).
Yudhono menjelaskan, insiden tersebut disebut telah berlangsung sejak Juni. Binance kemudian melakukan isolasi terhadap karyawan yang terdampak. Namun, langkah tersebut dinilai terlambat karena peretas sudah memperoleh informasi dari perangkat kerja karyawan tersebut.
Informasi yang berhasil diakses, menurut dia, memungkinkan pelaku mengetahui identitas karyawan, struktur organisasi, hingga pihak-pihak yang bekerja di dalam perusahaan. Informasi tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk menyusun serangan yang lebih terarah.
Dia menilai, pola serangan semacam ini menunjukkan bahwa teknologi keamanan secanggih apa pun tetap memiliki kerentanan apabila faktor manusia tidak mendapatkan perhatian yang memadai.
"Yang paling rentan biasanya orang yang bekerja di exchange tersebut," katanya.
Baca Juga
FLOQ Jajaki Integrasi Layanan Perdagangan Aset Digital di Ekosistem Telkomsel
Perkuat Literasi Keamanan Karyawan
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Yudhono mengatakan, FLOQ secara rutin memberikan edukasi keamanan siber kepada seluruh karyawan. Salah satunya melalui kegiatan town hall bulanan yang digunakan untuk menyampaikan pembelajaran dari berbagai kasus peretasan yang terjadi di industri kripto.
Dalam kegiatan tersebut, perusahaan mengingatkan karyawan agar tidak sembarangan membuka tautan atau mengunduh aplikasi yang berpotensi mengandung malware maupun menjadi sarana phishing. FLOQ juga melakukan phishing test secara berkala untuk menguji kewaspadaan karyawan terhadap berbagai modus penipuan digital.
Melalui pengujian tersebut, perusahaan dapat mengetahui karyawan yang masih rentan mengeklik tautan mencurigakan, sekaligus memberikan pengingat dan edukasi tambahan.
Namun, menurut Yudhono, edukasi karyawan saja tidak cukup. Perusahaan juga harus memberikan kapasitas dan dukungan yang memadai kepada tim teknologi agar keamanan informasi menjadi prioritas dalam pengembangan bisnis.
Dia menilai, perusahaan yang tumbuh cepat sering kali terlalu berorientasi pada peluncuran produk dan penyelesaian pekerjaan dalam waktu singkat. Tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dapat mendorong karyawan mengambil jalan pintas tanpa mempertimbangkan risiko keamanan.
Karena itu, tim teknologi perlu memiliki ruang dan sumber daya untuk mengembangkan sistem pemantauan, menerapkan circuit breaker, serta mengantisipasi berbagai bentuk serangan baru, termasuk yang memanfaatkan teknologi AI.
"Jangan hanya fokus launching produk paling cepat dan paling keren, tapi tim juga harus memikirkan information security issues-nya," ujarnya.
