Net Sell Asing Dekati Rp100 Triliun
"Penjualan bersih asing mencapai Rp98,03 triliun hingga 2 November 2026. IHSG terpangkas 41,06% sejak awal tahun, sementara valuasi pasar berada pada PER 10,74 kali dan PBV 1,32 kali"
JAKARTA, Investortrust.id — Penjualan bersih saham oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendekati Rp100 triliun. Berdasarkan IDX Daily Statistics edisi Senin, 2 November 2026, akumulasi penjualan bersih atau net sell asing sejak awal tahun mencapai Rp98,03 triliun, setara sekitar US$5,40 miliar. Tekanan tersebut berlangsung di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 41,06% sepanjang tahun berjalan.
Pada perdagangan Senin (02/11/2026), investor asing masih membukukan penjualan bersih Rp112,47 miliar atau sekitar US$6,19 juta. Namun, IHSG berhasil menguat 39,780 poin atau 0,79% menjadi 5.096,830, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya 5.057,050.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dari titik terendah 4.981,519 hingga tertinggi 5.125,739. Penguatan pada penutupan mengangkat indeks kembali ke atas level 5.000, tetapi belum banyak mengurangi kerugian yang terakumulasi sejak awal tahun.
Baca Juga
Saat Asing Terus Jual Saham, Mirae Ungkap Strategi Investasi untuk Hadapi IHSG Bearish
Net sell Rp98,03 triliun merupakan selisih antara nilai penjualan dan pembelian saham oleh investor asing sepanjang tahun berjalan. Artinya, nilai saham yang dijual investor asing lebih besar Rp98,03 triliun dibandingkan nilai saham yang mereka beli.
Angka tersebut bukan total penjualan bruto asing. Investor asing tetap dapat melakukan pembelian dalam jumlah besar, tetapi posisi bersihnya negatif karena penjualan lebih tinggi. Demikian pula pada perdagangan 2 November: nilai penjualan asing melampaui pembeliannya sebesar Rp112,47 miliar.
Salinan statistik yang menjadi bahan tulisan ini tidak menampilkan angka pembelian bruto (foreign buy) dan penjualan bruto (foreign sell). Karena itu, besaran masing-masing transaksi tersebut serta proporsi transaksi asing terhadap keseluruhan perdagangan belum dapat dirinci.
Baca Juga
Tragedi Oktober di BEI! Rp 1.833 Triliun Kapitalisasi Pasar Menguap, Asing Kabur Rp 17 Triliun
Net sell saham juga tidak otomatis identik dengan dana dalam jumlah yang sama telah keluar dari Indonesia. Statistik ini mencatat selisih transaksi saham investor asing, bukan seluruh perpindahan dana lintas negara maupun perpindahan investasi ke instrumen lain.
Total transaksi saham BEI pada perdagangan tersebut mencapai Rp12,42 triliun, dengan volume 34,65 miliar saham dan frekuensi sekitar 1,44 juta transaksi. Nilai transaksi itu sekitar 38,83% di bawah rata-rata harian sepanjang tahun yang mencapai Rp20,30 triliun.
Transaksi pasar reguler mendominasi dengan nilai Rp10,16 triliun, sedangkan pasar negosiasi menyumbang Rp2,26 triliun. Secara kumulatif, nilai perdagangan saham sejak awal tahun mencapai Rp4.040,37 triliun.
Tertinggal dari Bursa ASEAN
Penurunan IHSG sebesar 41,06% sejak awal tahun menempatkan Indonesia pada urutan terakhir di antara enam pasar saham ASEAN yang ditampilkan dalam statistik BEI. Pelemahan Indonesia jauh lebih dalam dibandingkan negara-negara tetangga yang juga mencatatkan koreksi.
Di ASEAN, indeks SET Thailand justru menguat 19,65% sepanjang tahun berjalan, disusul Straits Times Index Singapura yang naik 14,15%. Sementara itu, FTSE Bursa Malaysia KLCI turun 3,61%, VN-Index Vietnam melemah 4,13%, dan PSEi Filipina terkoreksi 6,16%.
Dengan demikian, kinerja IHSG tertinggal 60,71 poin persentase dari Thailand dan 55,21 poin persentase dari Singapura. Dibandingkan Filipina, yang mencatatkan penurunan terdalam kedua dalam kelompok tersebut, koreksi IHSG masih lebih besar 34,90 poin persentase.
Baca Juga
IHSG Makin Terpuruk Jatuh ke 4.963, Analis Sebut Tren Penurunan Belum Selesai
Ketertinggalan juga terlihat dalam perbandingan Asia Pasifik. Indeks Taiwan melonjak 55,09%, KOSPI Korea Selatan naik 39,03%, dan Nikkei 225 Jepang menguat 25,31%. Sebaliknya, Sensex India turun 11,18%, Hang Seng Hong Kong melemah 8,73%, dan Shanghai Composite terkoreksi 8,34%.
Dalam tabel BEI, Indonesia menempati peringkat ke-13 di Asia Pasifik dan ke-35 pada kolom pemeringkatan dunia. Peringkat tersebut merupakan perbandingan indeks pilihan dalam publikasi, bukan seluruh bursa yang ada di dunia.
Sejumlah pasar di Amerika dan Eropa juga masih mencatatkan kenaikan. Dow Jones Industrial Average Amerika Serikat menguat 7,71%, indeks Kanada naik 12,32%, dan Brasil bertambah 4,22%. Di Eropa, indeks Polandia meningkat 33,18%, Norwegia 26,36%, Jerman 5,77%, dan Inggris 8,15%.
Perbandingan tersebut menggunakan perubahan indeks sebagaimana tercantum dalam publikasi BEI, dengan pengumpulan data pada pukul 16.00 WIB. Perbedaan zona waktu perlu diperhatikan karena angka itu tidak seluruhnya merupakan penutupan perdagangan pada tanggal yang sama. Kinerja indeks tersebut juga bukan perbandingan imbal hasil dalam satu mata uang yang seragam.
Baca Juga
Data Center Cikarang Full Booked! NeutraDC Siapkan Ekspansi Besar-besaran
Tekanan pasar saham Indonesia meluas ke seluruh 11 indeks sektoral. Infrastruktur mengalami penurunan terdalam, sebesar 51,99% sejak awal tahun, disusul teknologi yang merosot 50,18%.
Sektor energi terkoreksi 44,80%, properti dan real estat turun 42,97%, perindustrian melemah 41,18%, serta barang konsumen nonprimer turun 40,40%. Berikutnya, kesehatan turun 38,08% dan barang baku melemah 37,02%.
Tiga sektor dengan penurunan relatif lebih terbatas adalah barang konsumen primer sebesar 25,59%, transportasi dan logistik 23,43%, serta keuangan 22,40%. Meski lebih tahan dibandingkan sektor lainnya, ketiganya tetap mencatatkan koreksi lebih dari seperlima sepanjang tahun.
Pada perdagangan 2 November, sebagian sektor berhasil pulih. Barang baku memimpin kenaikan sebesar 2,12%, disusul energi 1,53%, infrastruktur 1,40%, dan perindustrian 0,76%. Sektor kesehatan masih turun 0,64%, properti 0,22%, teknologi 0,16%, serta transportasi dan logistik 0,12%.
Tekanan juga menjangkau kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 turun 38,83% sepanjang tahun, IDX30 melemah 33,39%, dan IDX80 terpangkas 42,78%. Indeks saham berdividen tinggi, IDX High Dividend 20, turun 23,22%.
Di kelompok syariah, Jakarta Islamic Index merosot 49,36%, JII70 turun 45,52%, dan Indeks Saham Syariah Indonesia melemah 44,83%. Data tersebut menunjukkan luasnya koreksi, termasuk pada kelompok saham likuid, pembayar dividen, dan saham syariah.
Saham Besar Menekan Indeks
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama IHSG sepanjang tahun. DSSA tercatat turun 82,80% dengan kontribusi negatif 301,09 poin terhadap indeks. BREN merosot 78,66% dan menyumbang tekanan 294,64 poin.
BBCA, yang harga sahamnya turun 38,33%, memberikan kontribusi negatif 291,51 poin. TLKM melemah 43,68% dengan tekanan 154,61 poin, sedangkan BBRI turun 22,95% dan mengurangi indeks sebesar 132,83 poin.
Pemberat lainnya mencakup TPIA, BRPT, BRMS, BMRI, dan FILM. Besarnya pengaruh saham-saham tersebut memperlihatkan bahwa pergerakan IHSG tidak hanya ditentukan oleh jumlah saham yang naik atau turun, tetapi juga bobotnya dalam penghitungan indeks.
Baca Juga
Merdeka Battery Materials Laporkan Kemajuan HPAL di Kuartal III-2026
Pada perdagangan Senin, BBCA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, yakni Rp1,24 triliun atau 10,02% dari total perdagangan. Setelahnya terdapat AADI sebesar Rp518 miliar, BBRI Rp503 miliar, BUMI Rp482 miliar, TLKM Rp475 miliar, dan BMRI Rp448 miliar.
Kapitalisasi pasar saham BEI pada 2 November tercatat Rp8.931 triliun atau sekitar US$492 miliar, menggunakan kurs acuan dalam publikasi sebesar Rp18.161 per dolar AS. Sementara itu, kapitalisasi IHSG setelah penyesuaian saham beredar bebas atau free float tercatat Rp1.774 triliun, setara sekitar US$98 miliar. Angka ini berbeda cakupan dan metode penghitungan dari kapitalisasi seluruh saham tercatat sehingga tidak dapat langsung diperlakukan sebagai rasio free float seluruh bursa.
BBCA tetap menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar, yakni Rp608 triliun atau 6,81% dari total kapitalisasi BEI. BBRI menyusul dengan Rp423 triliun, DCII Rp412 triliun, BMRI Rp342 triliun, dan BYAN Rp299 triliun.
Berikutnya adalah BREN sebesar Rp277 triliun, AMMN Rp267 triliun, ASII Rp197 triliun, TLKM Rp194 triliun, serta DNET Rp139 triliun. Sepuluh saham tersebut menguasai sekitar 35,37% kapitalisasi pasar.
Angka penurunan IHSG sebesar 41,06% tidak dapat langsung digunakan untuk menghitung penyusutan kapitalisasi pasar. Penghitungan perubahan kapitalisasi membutuhkan data pembanding awal tahun serta memperhitungkan perubahan jumlah saham tercatat dan aksi korporasi.
Valuasi Rendah
Di tengah koreksi harga, statistik BEI mencatat price to earnings ratio atau PER pasar sebesar 10,74 kali dan price to book value atau PBV sebesar 1,32 kali.
Secara sederhana, PER tersebut menunjukkan harga pasar sekitar 10,74 kali laba yang menjadi dasar penghitungan. Kebalikan PER menghasilkan earnings yield sekitar 9,31%, tetapi angka ini bukan tingkat dividen maupun imbal hasil yang pasti diterima investor.
PBV sebesar 1,32 kali menunjukkan valuasi pasar berada sekitar 32% di atas nilai buku yang menjadi dasar penghitungan. Angka agregat ini juga tidak berarti seluruh saham diperdagangkan pada valuasi yang sama.
Baca Juga
Pupuk Indonesia Siap Bangun Ammonia Hub di Batam, Tantang Hegemoni Singapura
Kombinasi koreksi indeks yang dalam dan valuasi tersebut membuka ruang untuk menelaah saham-saham yang harganya telah turun lebih jauh daripada perubahan fundamentalnya. Namun, kesimpulan bahwa seluruh saham sudah “sangat murah” memerlukan pembanding historis, valuasi pasar lain, serta penilaian terhadap prospek laba masing-masing perusahaan.
PER rendah bisa menjadi menarik apabila laba berkelanjutan dan arus kas kuat. Sebaliknya, rasio itu dapat meningkat jika laba kemudian turun. PBV rendah pun perlu dibaca bersama kualitas aset, kemampuan menghasilkan keuntungan, dan tata kelola perusahaan.
Penguatan IHSG pada awal November memberikan jeda di tengah tekanan panjang pasar. Namun, dengan net sell asing mendekati Rp100 triliun dan indeks masih turun 41,06% sepanjang tahun, satu hari kenaikan belum cukup untuk menyimpulkan perubahan arah. Harga yang jatuh membuka peluang. Kualitas laba dan kepercayaan menentukan apakah peluang itu memiliki nilai.
